LetterNews
03 November 2026
05:53 WITA
Topik Populer:
#Letternews#KPK#PLN#Bali#Korupsi#Polda Bali#Wayan Koster#Denpasar#Pemkot Denpasar#OJK
04 June 2026 07:15 WITA
Penulis: Redaksi | Editor: Redaksi | Dipublikasikan: 04 June 2026, 07:15 WITA

Cegah Stunting dan Obesitas, Pakar Turun Tangan Edukasi Menu Gizi Seimbang di SDN 12 Kesiman

Foto: Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (3/6/2026) di sekolah setempat ini diinisiasi oleh tim pengabdi berpengalaman, yakni Dr. Ir. I Komang Agusjaya Mataram, M.Kes. dan Ni Putu Agustini, SKM., M.Si.

DENPASAR, Letternews.net – Usia sekolah dasar merupakan periode krusial emas untuk mendukung optimalisasi pertumbuhan fisik, kecerdasan akademis, kesehatan, hingga perkembangan sosial anak. Menyikapi hal tersebut, sebuah aksi nyata dilakukan melalui program pengabdian masyarakat bertajuk ”Edukasi menu Gizi Seimbang Sebagai Upaya Pemenuhan Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri 12 Kesiman”, Denpasar Timur.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (3/6/2026) di sekolah setempat ini diinisiasi oleh tim pengabdi berpengalaman, yakni Dr. Ir. I Komang Agusjaya Mataram, M.Kes. dan Ni Putu Agustini, SKM., M.Si. Aksi edukatif ini menyasar langsung para siswa agar mereka memahami pentingnya porsi dan jenis makanan seimbang guna memenuhi kecukupan gizi harian.

[irp posts=”23522″ ]

Manfaat Gizi Seimbang: Dongkrak Fokus Belajar dan Tangkal Penyakit

Dr. Komang Agusjaya Mataram menjelaskan bahwa pemahaman tentang gizi seimbang memiliki efek domino yang luar biasa bagi performa anak di sekolah. Dengan mengonsumsi makanan yang tepat, anak-anak akan lebih fokus saat menyerap pelajaran, selalu bersemangat saat melakukan aktivitas fisik, serta tidak mudah terserang penyakit.

Lebih dari itu, edukasi ini menjadi langkah preventif jangka panjang dalam memutus mata rantai masalah gizi buruk pada anak urban.

“Menu gizi seimbang sangat penting untuk membentengi anak-anak kita dari berbagai ancaman masalah gizi, seperti kurus (wasting), kekerdilan (stunting), kegemukan atau obesitas, hingga anemia yang kerap menurunkan produktivitas belajar anak,” ujar Dr. Komang Agusjaya.

Bedah Kebutuhan Zat Gizi Makro dan Mikro Anak Usia 10–12 Tahun

Dalam kegiatan tersebut, tim pengabdi membeberkan secara detail standar angka kecukupan gizi (AKG) harian bagi anak usia 10–12 tahun. Terdapat sedikit perbedaan kebutuhan biologis antara anak laki-laki dan perempuan:

  • Anak Laki-laki: Membutuhkan energi 2000 kkal, protein 50 gram, lemak 65 gram, dan karbohidrat 300 gram.

  • Anak Perempuan: Membutuhkan energi 1900 kkal, protein 55 gram (lebih tinggi), lemak 65 gram, dan karbohidrat 280 gram.

  • Zat Mikro (Sama): Membutuhkan zat besi 8 mg, kalsium 1200 mg, fosfor 1250 mg, vitamin A 600 RE, vitamin C 50 mg, serta iodium 120 ug.

Untuk memenuhi angka tersebut, siswa dianjurkan menerapkan prinsip makanan yang Aman, Bergizi, Bervariasi, dan Berimbang. Sumber karbohidrat tidak harus nasi, tetapi bisa divariasikan dengan roti, mi, kentang, jagung, atau singkong. Sementara kebutuhan protein dapat dipenuhi dari telur, daging sapi, ayam, ikan, tahu, maupun tempe.

[irp posts=”19397″ ]

Visualisasi Porsi Ideal dalam Sekali Makan

Sebagai panduan praktis, Ni Putu Agustini, SKM., M.Si., memperlihatkan replika atau contoh riil menu satu kali makan yang ideal untuk anak, yaitu:

  • Nasi: 200 gram

  • Lauk Hewani: Ayam goreng 75 gram (khusus anak perempuan disarankan 100 gram)

  • Lauk Nabati: Tempe goreng 50 gram

  • Sayuran: Tumis kangkung 50 gram (bisa divariasi bayam, sawi, atau wortel)

  • Buah: Jeruk manis 100 gram (bisa diganti pepaya, mangga, pisang, atau melon)

[irp posts=”25944″ ]

Metode Edukasi Interaktif Melalui Pre-Test dan Post-Test

Penyampaian materi dikemas secara interaktif menggunakan media presentasi digital (PPT) dikombinasikan dengan metode ceramah serta tanya jawab langsung. Guna mengukur efektivitas dan tingkat penyerapan informasi oleh siswa, tim pengabdi menggelar sesi pre-test sebelum materi dimulai dan post-test di akhir acara.

Anak-anak tampak sangat serius sekaligus ceria saat mencermati contoh menu gizi seimbang yang dipamerkan di depan kelas. Menariknya, para siswa diajarkan untuk mampu memilih makanan sehatnya sendiri serta didorong untuk menyampaikan pesan kesehatan ini kepada orang tua mereka di rumah.

Tidak berhenti pada siswa, materi edukasi ini juga diserahterimakan kepada guru kelas. Melalui keterlibatan aktif wali kelas, diharapkan terjadi pengulangan imbauan (reinforcement) secara kontinu di sekolah, sehingga kebiasaan mengonsumsi menu gizi seimbang dapat bertransformasi menjadi gaya hidup sehat yang melekat pada diri anak sejak dini.