Anomali Tanah Lot 2025: Kunjungan Turun tapi Pendapatan Melejit Rp72 Miliar, Wisman India Jadi Primadona
Foto: Meski kunjungan turun, pendapatan DTW Tanah Lot 2025 naik jadi Rp72 Miliar berkat dominasi wisman India. Simak data lengkap dan analisis pengelola di sini.

TABANAN, Letternews.net – Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot di Desa Beraban, Kediri, Tabanan, mencatatkan tren unik di penghujung tahun 2025. Meski secara akumulatif jumlah kunjungan wisatawan menurun dibandingkan tahun lalu, namun pendapatan pengelola justru mengalami lonjakan signifikan hingga menyentuh angka Rp72 Miliar.
Asisten Manajer DTW Tanah Lot, I Putu Toni Wirawan, mengungkapkan bahwa pada tahun 2024 total kunjungan mencapai 1,7 juta orang. Sementara per 29 Desember 2025, total kunjungan berada di angka 1,4 juta orang.
Wisman Mendominasi, Pendapatan Naik Signifikan
Peningkatan pendapatan dari Rp64 Miliar (2024) menjadi Rp72 Miliar (2025) di tengah penurunan jumlah pengunjung disebabkan oleh komposisi wisatawan yang didominasi oleh Wisatawan Mancanegara (Wisman).
“Persentase wisman tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun 2024. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan karena perbedaan struktur tarif,” ujar Toni pada Selasa (30/12/2025).
Keberhasilan ini juga didorong oleh promosi masif dan penyelenggaraan festival seni serta kuliner pada Agustus 2025 yang sukses mendongkrak minat wisatawan kelas atas ke objek wisata pura di tengah laut ini.
Wisata Spiritual: Magnet bagi Wisatawan India
Toni menepis isu bahwa Bali mulai ditinggalkan wisatawan. Menurutnya, Tanah Lot memiliki karakter pengunjung yang loyal, terutama mereka yang mencari pengalaman spiritual. Saat ini, wisman asal India menempati urutan teratas kunjungan internasional di Tanah Lot.
“Wisatawan India datang bukan hanya untuk berlibur, tapi juga wisata spiritual. Mereka ingin melihat langsung bagaimana praktik Hindu di Bali. Selain India, kunjungan terbanyak disusul oleh Tiongkok, Australia, dan Eropa,” paparnya. Sementara itu, wisatawan domestik masih didominasi oleh pengunjung asal Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, dan Yogyakarta.
Isu Lingkungan dan Ekonomi Jadi Tantangan
Toni tidak menampik adanya penurunan total kunjungan yang dipicu oleh beberapa isu krusial di Bali, seperti kemacetan, bencana banjir, hingga masalah sampah. Kondisi perekonomian masyarakat yang belum stabil juga turut berdampak pada daya beli di sektor pariwisata.
“Kami berharap pemerintah segera memberikan solusi atas masalah infrastruktur dan lingkungan ini agar kunjungan ke Bali kembali meningkat secara merata,” pungkasnya.
Jelang malam pergantian tahun, kunjungan harian di Tanah Lot terpantau meledak. Jika pada November rata-rata kunjungan harian sebanyak 3.000 orang, kini dalam lima hari terakhir angkanya melonjak di kisaran 5.000 hingga 6.000 pengunjung per hari.
Editor: Rudi.







