Barang Bukti Dirampas Negara: Gugatan Perdata Jadi Instrumen Tepat Bagi Pihak Ketiga Beritikad Baik
Runtuhnya Otoritas Kepakaran di Era Algoritma: Ketum JMSI Serukan Pers Nasional Segera Rebut Kembali Marwah Jurnalistik Verifikasi
Foto: Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa

JAKARTA, Letternews.net – Dunia informasi saat ini sedang dilanda anomali serius berupa runtuhnya otoritas kepakaran di hadapan algoritma media sosial. Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr. Teguh Santosa, menegaskan bahwa fenomena The Death of Expertise yang dahulu diperingatkan sosiolog Tom Nichols kini telah menjadi kenyataan pahit yang mengepung ruang publik dan mengancam rasionalitas bangsa.
Dalam pemikirannya, Dr. Teguh Santosa menilai bahwa pengetahuan yang lahir dari riset bertahun-tahun serta integritas metodologis kini kian terpinggirkan oleh narasi dangkal berdurasi puluhan detik yang dibalut sensasionalisme demi perburuan metrik keterlibatan (engagement) serta monetisasi algoritma.
“Panggung diskursus publik kini kerap dibajak oleh figur-figur yang fasih berbicara di depan kamera dan piawai menyunting visual dramatis, namun miskin pemahaman substantif. Pers tidak boleh ikut-ikutan menjadi pengeras suara bagi narasi viral yang belum teruji,” tegas Ketua Umum JMSI, Dr. Teguh Santosa, Rabu (9/9/2026).
Tiga Ancaman Utama Terhadap Ruang Diskursus Publik
Dr. Teguh Santosa membedah tiga bahaya laten yang muncul akibat dominasi konten instan dan hegemoni algoritma media sosial:
-
Eksploitasi Kapitalisme Pengawasan (Surveillance Capitalism): Sebagaimana dicatat Shoshana Zuboff, perhatian publik dikomodifikasi semata-mata demi mengejar keuntungan finansial, tanpa memedulikan etika maupun kebenaran pesan.
-
Perusakan Kohesi Sosial: Informasi sengaja dipelintir untuk memantik kemarahan dan memperkeruh polarisasi, sehingga ruang dialog rasional tergerus oleh kebisingan linimasa.
-
Erosi Metodologi Jurnalistik: Sebagian wartawan dan awak redaksi kerap tergoda instansi dengan mengutip utas atau potongan video viral dari pembuat konten sebagai “rujukan metodologis” tanpa melalui proses konfirmasi dan verifikasi ketat.
Panggilan Darurat JMSI untuk Redaksi Media Siber
JMSI menilai kondisi ini sebagai alarm darurat bagi seluruh pengelola media siber di Indonesia. Merujuk pada prinsip dasar Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism, esensi utama pers adalah disiplin verifikasi. Mengorbankan metodologi demi mengekor tren viral dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap mandat intelektual pers.
Guna menyelamatkan marwah pers nasional dan mencegah pemakaman kepakaran, JMSI mengimbau seluruh redaksi media siber untuk mengambil langkah-langkah konkret:
-
Memperketat Kurasi Narasumber: Mengembalikan posisi akademisi, ilmuwan, dan praktisi kompeten di tempat terhormat dalam setiap pemberitaan.
-
Menolak Jurnalisme Clickbait: Berani menepis godaan jalan pintas yang mereduksi kerja lapangan menjadi sekadar daur ulang kebisingan dunia maya.
-
Teguh Mengikuti Kode Etik: Wartawan harus tetap berdiri tegak sebagai penyaring kebenaran yang kritis, skeptis, dan independen dari tekanan algoritma.
Editor: Rudi









