LetterNews
02 November 2026
21:01 WITA
Topik Populer:
#Letternews#KPK#PLN#Bali#Korupsi#Polda Bali#Wayan Koster#Denpasar#Pemkot Denpasar#OJK
15 July 2026 18:20 WITA
Penulis: Redaksi | Editor: Redaksi | Dipublikasikan: 15 July 2026, 18:20 WITA

Bali Mandiri Energi Bersih: Gubernur Koster Dorong Penuh Pemasangan PLTS Atap Masif

Foto: Gubernur Wayan Koster targetkan Bali mandiri energi bersih 100% pada 2045 melalui percepatan pemanfaatan PLTS Atap di Indonesia Solar Summit 2026. Baca selengkapnya!

DENPASAR, Letternews.net – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk menjadikan Bali mandiri energi berbasis energi bersih dengan menghentikan ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi strategi utama untuk mewujudkan target Net Zero Emission (NZE) Bali pada tahun 2045, lima belas tahun lebih cepat dibandingkan target nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Koster saat membuka Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 di Bali Beach Convention Center, The Meru Bali, Sanur, Denpasar, Selasa (14/7).

[irp]

Menurut Koster, sebagai daerah yang bertumpu pada sektor pariwisata, Bali membutuhkan kualitas lingkungan yang baik serta sistem energi yang bersih, aman, dan berkelanjutan. Komitmen tersebut menjadi bagian dari implementasi Visi Pembangunan Daerah Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.

“Untuk mewujudkan target tersebut, kami mempercepat pengembangan energi baru terbarukan, khususnya energi surya, memperluas penggunaan kendaraan listrik, mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi bersih, serta membuka ruang investasi dan kolaborasi di sektor energi hijau,” ujar Koster.

Ia menegaskan, Bali harus memiliki kemandirian energi dengan memanfaatkan sumber energi yang tersedia di daerah sendiri. Ke depan, pembangkit listrik di Bali diharapkan tidak lagi menggunakan bahan bakar fosil agar sumber pencemaran udara dapat dihilangkan sehingga kualitas udara tetap terjaga dengan baik.

[irp]

“PLTS adalah pilihan terbaik karena sumber energinya berasal dari matahari yang melimpah. Saya mendorong pemanfaatan PLTS sebagai sumber energi masa depan Bali,” tegasnya.

Koster juga menyatakan Pemerintah Provinsi Bali siap mendukung penuh masyarakat yang ingin memasang PLTS mandiri. Menurutnya, penggunaan energi surya tidak merugikan pemerintah, justru perlu difasilitasi sebagai bagian dari percepatan transisi energi bersih daerah.

“Kalau masyarakat mau memasang PLTS, saya akan dukung. Pemerintah harus memfasilitasi karena ini memberikan manfaat besar bagi kelestarian lingkungan dan kenyamanan masyarakat,” katanya menambahkan.

[irp]

Sebagai bentuk implementasi, Pemprov Bali akan mengembangkan kawasan rendah emisi (Low Emission Zone) yang diawali dari Nusa Penida. Selanjutnya, program berwawasan lingkungan tersebut akan diperluas secara bertahap ke kawasan pariwisata utama seperti Nusa Dua, Kuta, Sanur, dan Ubud.

Langkah strategis ini telah didukung oleh sejumlah regulasi kokoh. Di antaranya adalah Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2020 tentang Rencana Umum Energi Daerah, Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih, serta Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pemanfaatan PLTS Atap di Provinsi Bali.

Koster berharap gelaran Indonesia Solar Summit 2026 tidak hanya menghasilkan diskusi, tetapi juga melahirkan kemitraan strategis, investasi konkret, dan rekomendasi kebijakan yang mampu mempercepat terwujudnya target nasional pengembangan 100 gigawatt (GW) energi surya.

Sementara itu, CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengatakan Indonesia Solar Summit merupakan forum nasional tahunan yang diselenggarakan IESR bersama kementerian dan lembaga pemerintah untuk mempercepat transisi energi bersih di Indonesia.

[irp]

Menariknya, sejak pertama kali digelar pada 2022, ISS selalu diselenggarakan di Jakarta. Tahun 2026 menjadi tonggak sejarah baru karena untuk pertama kalinya forum tersebut berlangsung di luar ibu kota negara, dengan Bali terpilih sebagai tuan rumah atas komitmen kuatnya di sektor energi hijau.

“Energi surya bukan lagi sekadar wacana, tetapi telah menjadi agenda pembangunan nasional untuk mencapai kemandirian energi. Tantangan kita sekarang adalah mengubah potensi besar yang dimiliki Indonesia menjadi investasi nyata dan mempercepat terwujudnya ekonomi hijau,” pungkas Fabby.

Editor: Lilla