
DENPASAR, Letternews.net – Publik tanah air tengah dihebohkan oleh kabar miring yang menimpa sejumlah pejabat teras di kabinet Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Tiga pejabat negara, yakni Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono, Kepala BP Taskin Budiman Sujatmiko, dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dilaporkan harus dievakuasi keluar dari area Universitas Gadjah Mada (UGM) setelah jalannya acara diskusi berakhir ricuh.
Peristiwa tersebut terjadi saat ketiganya hadir sebagai narasumber dalam acara podcast yang digelar oleh kanal Total Politik di lingkungan kampus UGM. Diskusi ilmiah yang mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” tersebut mendadak berubah menjadi arena ketegangan akibat penolakan keras dari elemen aktivis mahasiswa setempat.
Menanggapi fenomena panas ini, pengamat dan analis politik nasional dari GPS (Gerakan Pengawal Swara) memberikan perspektif dan catatan kritisnya mengenai akar penyebab terjadinya kekisruhan tersebut.
[irp]
Analis GPS menilai bahwa langkah para pejabat negara turun langsung ke kampus-kampus sebenarnya merupakan niat yang baik. Namun, momentum kehadiran mereka dinilai sudah sangat terlambat dan membawa preseden psikologis yang keliru di mata mahasiswa.
Kehadiran wakil pemerintah ke UGM ini dianggap sekadar ajang klarifikasi sepihak, bukan wadah penyerapan aspirasi yang murni sebelum sebuah kebijakan dijalankan. Kondisi psikologis mahasiswa saat ini sudah telanjur diselimuti kekecewaan mendalam atas realisasi program-program pemerintah di lapangan.
Ada beberapa poin evaluasi kritis dari GPS terkait relasi pemerintah dan mahasiswa saat ini:
Distrust Akibat Korupsi Program: Mahasiswa kecewa karena melihat program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditengarai menjadi bancakan korupsi raksasa, serta program Kawasan Demi Masa Depan (KDMP) yang berjalan serampangan tanpa perencanaan matang sejak awal.
Kemasannya Terlalu Entertain: Kehadiran pejabat lewat format Podcast dinilai sekadar taktik untuk memoles (make-up) tampilan pemerintah yang sebelumnya terkesan mencuekkan ekspresi aspirasi mahasiswa saat berdemonstrasi di Jakarta.
Komunikasi yang Menggurui: Gaya penyampaian beberapa pejabat, seperti Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dinilai terkesan kurang soft dan cenderung menggurui audiens kampus.
[irp]
Lebih lanjut, GPS menyoroti bahwa kehadiran Wamentan Sudaryono sebenarnya relatif dapat diterima dengan baik dalam berbagai pertemuan pertanian di kampus-kampus sebelumnya. Namun, kesalahan fatal dalam momentum di UGM kali ini adalah bertandem dengan Budiman Sujatmiko.
Budiman, yang baru saja terlibat kericuhan serupa dengan aktivis mahasiswa di Semarang, dinilai menjadi pemicu utama meledaknya ketegangan di UGM. Meskipun Budiman merupakan alumni UGM, para aktivis mahasiswa generasi saat ini memandangnya sebagai sosok yang telah berseberangan dengan semangat reformasi.
Kericuhan di dalam ruangan diskusi memuncak tepat ketika Budiman berbicara berapi-api dan menyinggung nama mantan Ketua BEM UGM, Tyo Ardianto. Sejak titik itu, narasi apa pun yang diangkat oleh pemerintah tidak lagi didengar oleh mahasiswa karena adanya resistensi dan rusaknya relasi harmonis.
“Posisi Budiman Sujatmiko bukan lagi menjadi kartu Ace bagi pemerintahan Prabowo dalam menghadapi mahasiswa generasi saat ini. Budiman bukanlah seperti Hariman Siregar di era pemerintahan Soeharto dulu,” tulis analisis GPS.
[irp]
Guna meredam krisis kepercayaan (distrust) yang kian meluas, GPS menyarankan agar Pemerintahan Prabowo berani mengambil langkah ksatria dengan mengakui adanya kesalahan perencanaan kebijakan secara terbuka kepada rakyat.
Pemerintah perlu berterus terang bahwa penganggaran MBG terlalu besar tanpa kesiapan matang hingga rawan dikorupsi, serta mengakui infrastruktur KDMP banyak yang bermasalah, sembari memaparkan langkah perbaikan konkretnya. Jika kritik mahasiswa terus-menerus dicap sebagai nyinyiran, kaki tangan asing, atau penolak kemajuan, maka gelombang aksi protes dipastikan akan terus membesar.
Pemerintah juga diminta tidak menuntut mahasiswa untuk berdialog dengan gaya kaku layaknya para guru besar. Sejak dahulu kala, karakter tulen gerakan mahasiswa selalu melibatkan aksi, orasi, agitasi, mobilisasi, dan kreasi-kreasi kritis sesuai dengan zamannya.
Editor: Rudi.