
DENPASAR, Letternews.net – Gubernur Bali, Wayan Koster, memasang target optimistis namun terukur dengan membidik angka pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata sebesar 6,10 persen pada tahun 2026. Langkah strategis ini diselaraskan dengan lompatan target pendapatan per kapita masyarakat Bali hingga bertransformasi di atas Rp72 juta per tahun.
Rencana besar tersebut dibedah secara komprehensif dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Gubernur Bali bersama seluruh Bupati dan Wali Kota se-Bali. Pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung di Ruang Rapat Kertha Sabha, Gedung Jaya Sabha, Denpasar, pada Senin (8/6/2026) dari pukul 09.00 WITA hingga 13.00 WITA.
[irp]
Rakor yang mengusung tema “Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Bali Tahun 2026 Menjadi 6,10 Persen” ini menjadi panggung penegasan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.
Gubernur Koster menegaskan, Bali tidak boleh lagi dibangun dengan ego sektoral atau berdasarkan kepentingan sepihak wilayah masing-masing. Seluruh kabupaten dan kota wajib bergerak serentak dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
“Pembangunan perekonomian Bali diselenggarakan dalam satu kesatuan wilayah, yaitu 1 Pulau, 1 Pola, dan 1 Tata Kelola. Tidak boleh ada lagi ego sektoral maupun ego kewilayahan. Yang kita bangun adalah Bali sebagai satu kesatuan utuh,” tegas Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng tersebut.
[irp]
Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi Bali pada tahun 2025 tercatat kokoh di angka 5,82 persen. Untuk mengatrol angka tersebut menjadi 6,10 persen di tahun 2026, Pemprov Bali bersama kepala daerah akan mengoptimalkan lima sektor tulang punggung utama: pertanian, industri pengolahan, konstruksi, transportasi/pergudangan, serta akomodasi makan minum (akmamin).
Di samping pertumbuhan angka, rakor ini juga menetapkan target sosial-ekonomi yang sangat ketat:
Pendapatan Krama: Digenjot hingga di atas Rp72 juta per tahun.
Angka Kemiskinan: Ditekan hingga di bawah 3,42 persen.
Tingkat Pengangguran: Diwajibkan turun di bawah 1,45 persen.
Kesenjangan Pendapatan (Gini Ratio): Ditekan di bawah 0,333.
Prevalensi Stunting: Ditargetkan merosot hingga di bawah 8 persen.
[irp]
Dalam sesi pemaparan berbasis data (data-driven), tiga kabupaten yakni Badung, Gianyar, dan Tabanan, serta Kota Denpasar sukses mencatatkan rapor terbaik dalam berbagai indikator pembangunan ekonomi dan pengendalian inflasi daerah siber regional Jawa-Bali.
Guna mempercepat pemerataan infrastruktur, Gubernur Koster menginstruksikan skema gotong royong fiskal. Daerah yang memiliki kapasitas pendapatan besar seperti Badung, Denpasar, dan Gianyar wajib menyokong pembiayaan pembangunan di kabupaten lain lewat skema transfer anggaran. Kebijakan transfer anggaran 10 persen ke kabupaten/kota bahkan akan ditingkatkan mulai tahun 2026.
“Semua branding adalah branding Bali. Jika satu kabupaten kena masalah hingga ramai di media siber, yang dirugikan adalah Bali secara keseluruhan. Daerah dengan fiskal kuat harus ikut memperkuat daerah lain agar kesejahteraan dirasakan merata,” pungkas Koster.
Di akhir arahan, Gubernur juga menginstruksikan pengetatan regulasi alih fungsi lahan hijau, selektivitas izin hotel/restoran baru, serta optimalisasi Perumda dalam tata niaga hasil bumi lokal agar diserap langsung oleh industri pariwisata.
Editor: Rudi.