Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61% di Triwulan I-2026: KSSK Pastikan Stabilitas Terjaga di Tengah Konflik Global

 Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61% di Triwulan I-2026: KSSK Pastikan Stabilitas Terjaga di Tengah Konflik Global

Foto: KSSK laporkan ekonomi Indonesia triwulan I-2026 tumbuh kuat 5,61%. Simak langkah Pemerintah, BI, OJK, dan LPS menjaga stabilitas di tengah gejolak global.

JAKARTA, Letternews.net — Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia tetap resilien dan terjaga pada triwulan I-2026. Meski volatilitas pasar keuangan global meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, sinergi kebijakan antarotoritas berhasil menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik tetap kuat.

Berdasarkan hasil rapat berkala KSSK II tahun 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh tinggi sebesar 5,61% (yoy), lebih kuat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,39%.

BACA JUGA:  Disdukcapil Denpasar Siap Gelar Penertiban Administrasi Kependudukan

Shock Absorber: APBN Lindungi Daya Beli

Menteri Keuangan selaku Ketua KSSK menjelaskan bahwa APBN 2026 berfungsi optimal sebagai penahan guncangan (shock absorber). Di tengah lonjakan harga energi dunia, pemerintah berkomitmen menjaga harga BBM bersubsidi tetap stabil dan memastikan defisit fiskal tetap di bawah 3% PDB.

“Realisasi Belanja Negara hingga Maret 2026 mencapai Rp815,0 triliun, tumbuh 31,4% (yoy). Akselerasi ini diarahkan untuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, dan perlindungan sosial guna menjaga daya beli masyarakat,” tulis pernyataan resmi KSSK, Kamis (7/5/2026).

BACA JUGA:  Pasca-Reshuffle, Analis Asing Soroti Potensi Risiko Fiskal di Bawah Menkeu Purbaya

Stabilitas Moneter dan Nilai Tukar

Gubernur Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa bauran kebijakan moneter tetap fokus pada stabilitas nilai tukar Rupiah. Meski dolar AS menguat secara global, BI secara aktif melakukan intervensi pasar dan memperkuat instrumen moneter pro-market seperti SRBI.

Hasilnya, inflasi IHK pada April 2026 tetap terkendali di angka 2,42% (yoy), berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Likuiditas perbankan juga dipastikan memadai untuk mendukung pembiayaan ekonomi ke depan.

BACA JUGA:  Ganjar Pranowo Paparkan Pentingnya Pemerataan Pembangunan di Silaknas ICMI 2023

Sektor Keuangan Kokoh dan Inovatif

Dari sisi pengawasan, OJK mencatat kinerja perbankan yang kontributif dengan permodalan (CAR) di level tinggi 25,09%. Sementara itu, LPS terus menjamin kepercayaan nasabah dengan cakupan rekening yang dijamin mencapai di atas 90%.

KSSK juga menyoroti langkah progresif OJK dalam menetapkan Roadmap Ekosistem Bulion 2026–2031 dan percepatan digitalisasi pasar modal melalui penguatan transparansi kepemilikan saham.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: