“Nyawa Anak Sekolah Terancam!” Warga Wonorejo Trisulo Kediri Keluhkan Jalan Rusak Akibat Truk Pasir
Foto: Ilustrasi Kerusakan jalan parah di Plosoklaten Kediri akibat truk pasir picu kecelakaan pelajar. Warga Desa Wonorejo Trisulo tagih janji perbaikan pemerintah.

KEDIRI, Letternews.net – Kerusakan infrastruktur jalan di Desa Wonorejo Trisulo, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, kini berada pada level yang mengkhawatirkan. Jalur penghubung antar-desa yang menjadi akses utama warga dan pelajar ini berubah menjadi “jalur maut” akibat aktivitas kendaraan berat pengangkut pasir.
Persoalan ini memuncak dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPRD Kabupaten Kediri. Sorotan utama tertuju pada ratusan truk Over Dimension Over Loading (ODOL) yang hilir mudik setiap hari. Pantauan di lapangan pada Selasa (21/4/2026) menunjukkan banyak truk bermuatan pasir tanpa penutup terpal yang memperparah debu dan bahaya bagi pengguna jalan lain.
Pelajar Jadi Korban Patah Tulang Sepanjang satu kilometer ruas jalan tersebut, aspal nyaris tak bersisa. Lubang-lubang besar dan gelombang jalan yang curam menjadi pemandangan sehari-hari. Kondisi ini telah menyebabkan sejumlah kecelakaan, terutama yang menimpa para pelajar.
Kepala Desa Wonorejo Trisulo, Muhammad Mustofa, mengungkapkan rasa prihatinnya atas jatuhnya korban jiwa dan luka. “Hampir setiap minggu ada kecelakaan anak sekolah. Bahkan ada yang sampai mengalami patah tulang karena terjatuh di jalan berlubang. Ini sangat memprihatinkan,” ujarnya tegas.
Mustofa menambahkan bahwa pada tahun 2025, pihak desa sempat melakukan perbaikan swadaya senilai Rp60 juta. Namun, perbaikan tersebut sia-sia karena kekuatan jalan tidak mampu menahan beban truk dari luar daerah yang melintas tanpa kontribusi terhadap perbaikan infrastruktur.
Warga Berencana Galang Iuran Mandiri Minimnya respons pemerintah daerah memicu inisiatif warga untuk bergerak mandiri. Berdasarkan hasil musyawarah, warga mempertimbangkan untuk meminta iuran sumbangan sukarela dari para sopir truk yang melintas guna mendanai perbaikan darurat.
“Kalau tidak ada tindakan, masyarakat berinisiatif meminta sumbangan. Ini demi keselamatan bersama dan jangan sampai anak-anak terus jadi korban,” lanjut Mustofa.
Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan permanen, disarankan menggunakan konstruksi beton agar lebih tahan terhadap beban berat. Selain itu, penertiban terhadap kendaraan ODOL menjadi harga mati agar infrastruktur desa tidak terus-menerus menjadi tumbal proyek angkutan pasir.
Editor: Rudi.







