“Mengemis di Rumah Sendiri”: Dana Bantuan Badung ke Buleleng Mandek, Ketimpangan Ekonomi Bali Kian Menusuk

 “Mengemis di Rumah Sendiri”: Dana Bantuan Badung ke Buleleng Mandek, Ketimpangan Ekonomi Bali Kian Menusuk

Foto: Wisatawan memadati kawasan wisata Pantai Kuta, Badung

BULELENG, Letternews.net – Sebuah paradoks tajam menyoroti isu ketimpangan ekonomi dan alokasi dana pembangunan antarwilayah di Bali, menyusul tersendatnya proyek infrastruktur di Kabupaten Buleleng. Proyek-proyek vital di wilayah Den Bukit terancam mandek setelah dana Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Kabupaten Badung hanya cair 16 persen dari total janji Rp 46 Miliar.

Penulis opini, Wayan Suyadnya, menyebut fenomena ini sebagai “Mengemis di Rumah Sendiri”. Kabupaten Buleleng, yang secara geografis berada di utara, harus menggantungkan harapannya pada Badung, kabupaten di selatan yang kaya raya dari limpahan pajak pariwisata, namun justru masalah internal Badung yang membuat dana tersendat.

BACA JUGA:  Ukhuwah Jurnalis Bali Gelar Halal Bihalal, M. Ridwan Terpilih Sebagai Ketua Baru Periode 2025-2030

Paradoks Ketimpangan dan Ego Daerah

Catatan ini menegaskan bahwa ketimpangan ini bukan hanya cerita Buleleng, melainkan juga dialami oleh kabupaten lain seperti Jembrana, Karangasem, Bangli, dan Klungkung yang “menengadah ke selatan”.

Logika Penulis: Infrastruktur di luar Badung sejatinya adalah penopang ekonomi Badung. Turis yang menginap di Kuta atau Nusa Dua membutuhkan jalan mulus menuju Lovina atau Besakih. Jika infrastruktur di daerah penyangga rusak:

BACA JUGA:  453 Pelapor Gratifikasi Lebaran dari 106 Instansi Masuk data KPK

“Maka hotel-hotel mewah di Badung pun akan kehilangan tamunya. Pajak hotel dan restoran akan menurun, dan pada akhirnya Badung sendiri akan menuai akibat dari ketimpangan yang dibiarkannya tumbuh.”

Opini ini menyerukan agar Bali segera dikelola dengan prinsip One Island Management. Kemakmuran Bali harus merata, karena wisatawan datang untuk menikmati Bali sebagai satu kesatuan, bukan sekadar batas administratif. Penulis memperingatkan, membiarkan kemakmuran tumbuh di atas ketimpangan akan merusak keajegan Bali secara keseluruhan.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: