Wisatawan Naik, Hotel Justru Sepi? Perhotelan Bali 2025: ‘Serangan’ Vila Ilegal Jadi Biang Kerok!

 Wisatawan Naik, Hotel Justru Sepi? Perhotelan Bali 2025: ‘Serangan’ Vila Ilegal Jadi Biang Kerok!

Foto: Harris Hotel & Residences Sunset Road Bali

DENPASAR, Letternews.net – Pariwisata Bali tengah berada di persimpangan jalan yang membingungkan. Meski angka kunjungan wisatawan dilaporkan terus melonjak, sektor perhotelan konvensional justru menjerit karena tingkat okupansi yang stagnan, bahkan cenderung merosot. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: ke mana perginya para wisatawan tersebut?

Data terbaru mengungkapkan bahwa tingkat hunian hotel di Bali sepanjang 2025 tertahan di kisaran 70 persen, sebuah angka yang dianggap tidak ideal di tengah tren pertumbuhan pelancong yang positif.

BACA JUGA:  Bila Menang Prabowo Akan Berikan Makan Siang dan Susu Gratis

Vila Ilegal Gerus Pasar Hotel Konvensional

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menyebut fenomena ini sebagai “Paradoks Pariwisata Bali”. Peningkatan jumlah pelancong tidak berbanding lurus dengan serapan kamar hotel berizin.

Ferry mengidentifikasi pergeseran preferensi wisatawan sebagai penyebab utama. Banyak pelancong kini lebih memilih menginap di vila dan homestay, terutama yang tidak berizin (ilegal). Akomodasi ini mampu menawarkan harga yang jauh lebih murah dan ruang yang lebih luas dibandingkan hotel berbintang.

“Akibatnya, hotel berizin kalah bersaing di kandang sendiri. Dampaknya bukan hanya pada pengusaha, tapi juga pada potensi pajak daerah yang ikut tergerus karena aktivitas akomodasi ilegal ini sulit terdeteksi,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Pemkot Denpasar Gelar Rakor Lintas Sektor, Dukung Kelancaran Pelaksanaan Pilkada Serentak Tahun 2024.

MICE Lesu Akibat Pemangkasan Anggaran Pemerintah

Selain persaingan dengan vila ilegal, industri perhotelan semakin tertekan oleh melemahnya pasar domestik, khususnya segmen MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Kebijakan pemangkasan anggaran negara dari instansi pemerintah membuat aktivitas pertemuan di hotel-hotel kota menyusut drastis. Padahal, selama ini segmen pemerintah menjadi tulang punggung utama bagi pendapatan hotel di luar musim liburan.

BACA JUGA:  Ngurah Wiryanata Plt Sekwan DPRD Bali, Sebagai ASN Harus Siap Ditugaskan Dimanapun. 

Anomali Data: Wisman Tumbuh, Okupansi Turun

Berdasarkan data BPS, sepanjang Januari–Oktober 2025, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali menembus 5,8 juta orang, atau tumbuh 10,99 persen (yoy).

Namun, secara ironis, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Oktober 2025 hanya tercatat 64,57 persen. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, yang mempertegas bahwa lonjakan jumlah wisatawan tidak lagi terserap oleh industri perhotelan resmi.

Kini, para pelaku industri hotel mulai menuntut tindakan tegas dari pemerintah. Jika penertiban terhadap akomodasi ilegal tidak segera dilakukan, industri hotel resmi di Bali diprediksi akan terus “babak belur” meski pariwisata terlihat ramai di permukaan.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: