Sentilan Keras Made Somya Putra: Peringatkan Pemimpin dan Orang Berpengaruh di Bali Soal “Karma” dan Perpecahan Umat

 Sentilan Keras Made Somya Putra: Peringatkan Pemimpin dan Orang Berpengaruh di Bali Soal “Karma” dan Perpecahan Umat

Foto: Made Somya Putra berikan peringatan keras bagi pemimpin dan orang berpengaruh di Bali. Waspadai dampak perpecahan umat dan hukum Karmaphala yang nyata.

DENPASAR, Letternews.net – Praktisi hukum sekaligus tokoh masyarakat Bali, Made Somya Putra, melontarkan pernyataan mendalam yang mengandung peringatan spiritual keras bagi para pemegang kekuasaan dan tokoh berpengaruh di Pulau Dewata. Pada Senin (26/01/2026), ia menyoroti dampak dari keputusan politik maupun kekuasaan yang berpotensi memecah belah persatuan umat.

Dalam sebuah refleksi filosofisnya, Somya menekankan bahwa pengaruh besar yang dimiliki seseorang adalah pedang bermata dua yang terikat erat dengan hukum sebab-akibat atau Karmaphala.

BACA JUGA:  Lawan Investasi Ilegal, OJK Bali Perkuat Sinergi TPAKD Melalui Coaching Clinic 2025

Ancaman Karma Bagi Pemicu Perpecahan

Made Somya Putra mengingatkan bahwa kekuasaan yang digunakan untuk memicu caci maki dan hujatan akan membawa dampak jangka panjang, tidak hanya bagi pelaku, tetapi hingga ke keturunannya.

“Engkau akan menjadi terkutuk jika pengaruhmu membuahkan hujatan, caci maki, dan perpecahan umat. Keturunanmu akan memikul karma dan tanggung jawab atas perbuatanmu, karena mereka akan terikat siklus Kharmapala dan Punarbawa,” tegas Somya dalam pernyataannya.

Ia menilai bahwa saat ini banyak argumen yang dibangun sebagai pembenaran atas keputusan sepihak, namun sejatinya hal tersebut hanyalah kedok dari ego pribadi. Ketidaktengangan, menurutnya, akan terus menemani mereka yang tersesat dalam pembenaran semu.

BACA JUGA:  Pohon Tumbang Akibatkan Listrik Padam, PLN Berjibaku Lakukan Penormalan

Pesan Mistis: Merasuknya Jiwa “Maya Danawa”

Secara simbolis, Somya menyebut bahwa saat ini jiwa-jiwa manusia, termasuk para pemimpin dan mereka yang mengaku suci, tengah dirasuki oleh energi “Maya Danawa”—sosok dalam mitologi Bali yang melambangkan keangkuhan dan kesesatan.

“Di seluruh alam Bali, pohon-pohon tempat bersemayamnya ‘Kala Wong’ sedang menuntut balas. Pastu (kutukan) sedang berjalan kepada penganut ‘Dewa Indra’ yang jumawa dan lupa akan sumpah leluhurnya,” lanjutnya.

Pernyataan ini seolah menjadi pengingat bagi para tokoh di Bali untuk kembali menengok sejarah, tradisi, dan janji-janji suci leluhur yang mungkin terabaikan demi kepentingan kekuasaan sesaat.

BACA JUGA:  Progres Perbaikan Jalan Nangka Denpasar Capai 3,5 Persen

Hanya Ketenangan Murni yang Menyelamatkan

Menutup refleksinya, Made Somya Putra mengajak masyarakat dan para pemimpin untuk kembali pada ketenangan murni. Ia meyakini bahwa hanya dengan kejernihan hati dan pikiran seseorang dapat selamat dari marabahaya spiritual maupun sosial yang tengah mengintai Bali.

“Semoga kita senantiasa disertai Sang Hyang Embang, yang menerangi semua jalan,” pungkasnya.

Pernyataan Somya ini menjadi viral dan memicu diskusi luas di kalangan masyarakat Bali, terutama di tengah situasi transisi kepemimpinan dan dinamika sosial yang kian memanas di awal tahun 2026.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: