Misteri Cahaya Merah di Setra Buleleng: Ternyata Rumah Pohon Bersejarah Pengintai Kapal Belanda
Misteri Cahaya Merah di Setra Buleleng: Ternyata Rumah Pohon Bersejarah Pengintai Kapal Belanda
Foto: Terungkap! Cahaya merah di atas pohon besar Setra Buleleng ternyata rumah pohon bersejarah. Dulu berfungsi sebagai pos pemantauan kapal Belanda.

BULELENG, Letternews.net – Ada pemandangan unik sekaligus mengundang tanya di areal Setra (pemakaman) Desa Adat Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Jika melintas atau memandang dari kejauhan pada malam hari, tampak pendar warna kemerahan di atas sebuah pohon besar yang rimbun.
Bukan hal mistis, cahaya tersebut bersumber dari sebuah Rumah Pohon legendaris yang menyimpan rekam jejak perjuangan pemuda Singaraja di masa lampau.
Saksi Bisu Kejayaan Pelabuhan Buleleng
Usut punya usut, rumah pohon yang berdiri kokoh di kawasan Setra Desa Adat Buleleng ini bukanlah bangunan baru. Di masa penjajahan, lokasi ini memiliki fungsi strategis sebagai Pos Pemantauan Kapal yang masuk melalui Pelabuhan Buleleng.
Perlu diingat, Bali Utara pada masa lampau merupakan pusat perdagangan internasional dan pintu masuk utama ke Pulau Dewata. Tingginya aktivitas di pelabuhan membuat titik pantau ini menjadi sangat krusial bagi keamanan wilayah.
Pos Pengintai Pejuang Buleleng
Sejarah mencatat bahwa rumah pohon ini menjadi saksi keberanian pemuda-pemuda Buleleng. Dari ketinggian pohon besar tersebut, para pejuang memantau pergerakan kapal-kapal milik Belanda yang mencoba merapat atau melakukan manuver di perairan Singaraja.
Posisi pohon yang berada di areal Setra memberikan keuntungan tersendiri, yakni kamuflase yang alami dan sudut pandang yang luas ke arah laut lepas. Kini, kehadiran warna kemerahan yang terlihat saat malam hari seolah menjadi pengingat akan api semangat perjuangan yang pernah berkobar di sana.
Ikon Unik di Tengah Kesakralan Setra
Keberadaan rumah pohon di area pemakaman ini menciptakan perpaduan nuansa sakral dan edukasi sejarah. Bagi masyarakat lokal, bangunan ini bukan sekadar kayu yang menempel di pohon, melainkan monumen hidup yang menceritakan betapa vitalnya peran Buleleng sebagai pusat diplomasi dan perdagangan Bali di masa lalu.
Editor: Rudi.








