Menjawab Instruksi Presiden Prabowo: Pirolisis Jadi “Tambang Minyak Baru” Pengganti Sistem Kumpul-Buang Sampah
Foto: Sapto Raharjanto (Ketua Departemen Penerbitan Centre Of Local Economy And Politics Studies (CoLEPS) Jember)

JAKARTA, Letternews.net — Instruksi tegas Presiden Prabowo Subianto kepada seluruh kepala daerah di Indonesia telah menggema: persoalan sampah tidak lagi bisa ditangani dengan metode konvensional. Krisis lahan TPA yang melanda hampir seluruh kabupaten dan kota menjadi bukti nyata bahwa sistem “kumpul-angkut-buang” telah mencapai titik nadir.
Kini, setiap daerah dituntut melahirkan inovasi teknologi yang tidak hanya meniadakan tumpukan limbah, tetapi juga mengubahnya menjadi motor penggerak Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui konsep Ekonomi Sirkular.
Pirolisis: Mengubah Plastik Menjadi Minyak
Salah satu teknologi mutakhir yang sangat relevan adalah Pirolisis. Teknologi ini merupakan proses dekomposisi termokimia dari material organik dan plastik melalui pemanasan tanpa oksigen.
Secara teknis, rantai polimer plastik diputus menjadi molekul pendek melalui suhu tinggi (300–500°C). Hasilnya mencengangkan: sampah plastik berubah menjadi bio-oil (minyak pirolisis) yang memiliki karakteristik serupa dengan solar atau minyak tanah. Selain itu, dihasilkan pula gas sebagai energi mandiri (self-sustaining energy) dan bio-char (arang karbon) untuk pembenah tanah.
Diversifikasi Teknologi Pendukung
Selain pirolisis, daerah dapat mengintegrasikan dua teknologi lain untuk menangani sampah secara sistematis:
-
Refuse Derived Fuel (RDF): Mengubah sampah campuran menjadi briket pengganti batu bara untuk industri semen dan PLTU.
-
Biokonversi Maggot BSF: Larva Black Soldier Fly yang mampu melahap sampah organik dan mengubahnya menjadi pakan ternak berprotein tinggi.
Transformasi Sampah Menjadi PAD
Implementasi teknologi ini memberikan dampak fiskal langsung bagi daerah melalui:
-
Kemandirian Energi: Minyak hasil pirolisis dapat digunakan untuk kendaraan dinas atau IKM, menghemat anggaran BBM daerah.
-
Penjualan Produk Sampingan: Pemerintah daerah melalui BUMD dapat menjual minyak, pelet RDF, hingga maggot ke sektor swasta.
-
Kredit Karbon: Pengurangan emisi gas rumah kaca dari pengolahan ini dapat dikonversi menjadi kredit karbon yang bernilai ekonomi tinggi di pasar internasional.
Keharusan Ekonomi, Bukan Sekadar Pilihan Lingkungan
Menanggapi instruksi Presiden, para kepala daerah harus segera melakukan audit volume sampah dan menyusun studi kelayakan pembangunan instalasi teknologi. Skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dapat menjadi solusi keterbatasan anggaran di awal.
Pengelolaan sampah berbasis teknologi bukan lagi sekadar pilihan lingkungan, melainkan keharusan ekonomi. Dengan teknologi pirolisis, daerah tidak lagi mengemis anggaran untuk mengurus sampah, melainkan menjadikan sampah sebagai “tambang minyak baru” yang menyejahterakan rakyat.
Penulis: Sapto Raharjanto (Ketua Departemen Penerbitan Centre Of Local Economy And Politics Studies (CoLEPS) Jember)
Editor: Rudi.







