Lahan Layangan Mertasari Terancam ‘Lenyap’ Demi UMKM? I Nyoman Putrawan Temui Komunitas Rare Angon: Ini Solusinya!
Foto: Dirut Perumda BPS Denpasar, Nyoman Putrawan, klarifikasi isu pembangunan UMKM di Pantai Mertasari. Lahan utama layangan dipastikan tetap ada. Simak hasil pertemuannya!

DENPASAR, Letternews.net – Rencana pembangunan block plan untuk tempat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di kawasan Pantai Mertasari sempat memicu keresahan mendalam di kalangan komunitas pecinta layang-layang di Bali. Pasalnya, area tersebut dianggap sebagai “benteng terakhir” atau satu-satunya tempat bermain layangan yang representatif dan luas di Kota Denpasar.
Merespons kegelisahan tersebut, Direktur Utama Perumda Bhukti Praja Sewakadarma (BPS) Kota Denpasar, I Nyoman Putrawan, ST, selaku pengelola lahan, turun langsung melakukan pertemuan dengan para tokoh dan perwakilan komunitas pecinta layang-layang. Pertemuan strategis ini digelar di Muntig Siokan, Sanur, pada Senin (05/01/2026).
Rare Angon Khawatir Tradisi ‘Musnah’
Dalam diskusi tersebut, para pecinta layang-layang atau yang akrab disapa Rare Angon menyampaikan aspirasi bahwa keberadaan lapangan Mertasari bukan sekadar tanah lapang, melainkan ruang budaya bagi tradisi melayangan di Bali. Rencana pembangunan area UMKM dikhawatirkan akan mempersempit ruang gerak serta membahayakan keselamatan pemain layangan akibat adanya struktur bangunan permanen.
“Mertasari adalah satu-satunya tempat kami yang tersisa. Jika ini dibangun gedung, tradisi melayangan di Denpasar terancam punah,” ungkap salah satu perwakilan komunitas.
Putrawan: Pembangunan Tidak Akan Mematikan Tradisi
Menanggapi hal tersebut, I Nyoman Putrawan menegaskan bahwa pihak Perumda BPS sangat memahami pentingnya pelestarian budaya melayangan. Ia menjelaskan bahwa pengembangan lahan untuk UMKM bertujuan untuk penataan kawasan, namun tetap akan memperhatikan kebutuhan ruang bagi komunitas.
“Kami hadir untuk mencari jalan tengah. Penataan UMKM adalah untuk meningkatkan ekonomi lokal, namun ruang bermain layang-layang tidak akan dimusnahkan. Kami akan melakukan tinjauan kembali terhadap block plan agar hobi dan tradisi ini tetap mendapatkan panggungnya di Mertasari,” ujar Nyoman Putrawan.
Pertemuan ini berakhir dengan kesepakatan bahwa pihak pengelola lahan akan melibatkan komunitas dalam proses pemetaan ulang area, sehingga pembangunan UMKM dan aktivitas melayangan dapat berjalan berdampingan secara harmonis.
Aspirasi Rare Angon: “Ruang Bermain Kami Sudah Habis”
Meskipun telah mendapatkan klarifikasi, komunitas pecinta layang-layang tetap meminta komitmen tertulis dan ruang permanen dari Pemerintah Kota Denpasar. Koordinator Rare Angon Festival, Eka Surya Wirawan, mengungkapkan bahwa Pantai Mertasari kini menjadi tumpuan terakhir.
“Saat ini sawah sudah tidak ada, bermain di rumah tidak boleh. PLN juga sudah sosialisasi aturan. Kalau tidak ada ruang, kami takut layang-layang liar justru akan muncul dan mengganggu ketertiban umum,” terang Eka Surya.
Pihaknya berharap Pemkot Denpasar tetap menjaga Pantai Mertasari sebagai kawasan terbuka hijau yang ramah terhadap tradisi melayangan, mengingat ruang terbuka di Denpasar yang kian menyempit akibat alih fungsi lahan.
Editor: Rudi.








