Kritik Banjir dan Macet di Panggung Jaratkaru, Ibu Putri Koster: Seniman Jangan Takut Bersuara!

 Kritik Banjir dan Macet di Panggung Jaratkaru, Ibu Putri Koster: Seniman Jangan Takut Bersuara!

Foto: Ibu Putri Koster berfoto bersama seluruh anggota Komunitas Kawiya. pementasan teater Jaratkaru oleh Komunitas Kawiya. Soroti cara seniman menyelipkan kritik banjir & macet dengan tetap menjaga etika.

DENPASAR, Letternews.net – Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ibu Putri Suastini Koster, memberikan apresiasi tinggi terhadap pementasan teater bertajuk “Jaratkaru: Lampan lan Utang Waras Mekutang” yang dibawakan oleh Komunitas Wartawan Budaya Bali (Kawiya). Pementasan ini menjadi salah satu primadona dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Senin (23/2/2026) malam.

Seni pertunjukan yang membawakan tafsir baru atas mitologi klasik ini menarik perhatian Ibu Putri Koster, terutama karena keberaniannya menyelipkan kritik sosial mengenai isu aktual di Bali, seperti kemacetan dan banjir.

BACA JUGA:  Bhakti Sosial Ngrombo ke-48, Pemprov Bali Serahkan Bantuan dan Gelar Pelatihan Pertolongan Pertama

Kritik Setajam Silet, Tetap Kedepankan Etika

Bunda Putri, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa seni adalah media yang sangat efektif untuk menyampaikan aspirasi. Ia mendorong para seniman untuk tidak takut melontarkan kritik kepada pemerintah selama tetap berada dalam koridor etika.

“Jangan takut menyampaikan kritik. Mau kritik silakan, misalnya tentang kemacetan. Jabarkan saja, ributlah di atas panggung. Tapi tetap harus mengedepankan etika,” ucap sosok yang juga dikenal sebagai seniman multitalenta ini.

Ia menambahkan bahwa aktor yang brilian adalah mereka yang mampu menyampaikan pesan kritis “setajam silet” tanpa harus menyakiti atau menggunakan kata-kata kasar. “Tidak elok kalau anak-anak kita belajar memaki atau melakukan perundungan di panggung. Itu tidak bagus,” tegasnya.

BACA JUGA:  Siap Berlaga di Putra Putri Pelajar Indonesia 2026, Ibu Putri Koster Rekomendasikan Tenun Khas Bali untuk Rasha

Refleksi Diri dan Evaluasi Estetik

Menyaksikan penampilan anak-anak muda Kawiya, Ibu Putri Koster mengaku teringat masa mudanya saat mulai melakoni seni pertunjukan pada tahun 1978. Ia memuji kemampuan olah vokal, olah tubuh, dan konsep penyutradaraan Agus Wiratama yang dinilai mampu memadukan teori dengan aplikasi panggung yang apik.

Meski demikian, sebagai sosok yang sangat detail terhadap kualitas seni, Ibu Putri memberikan catatan evaluasi terkait harmonisasi teknis. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara volume suara pemain dengan musik gamelan agar pesan dalam dialog dapat tersampaikan dengan jernih kepada penonton.

BACA JUGA:  Pemberdayaan Teruna Teruni Dalam Posyandu Remaja di Desa Pejeng Kawan, Tampaksiring Gianyar

Tafsir Baru Mitologi Jaratkaru

Pementasan Jaratkaru kali ini tidak sekadar mengulang teks klasik tentang leluhur yang tergantung di bambu petung. Tim kreatif yang terdiri dari Ingga Adellia, Dede Satria, hingga Putu Supartika, menghadirkan pendekatan yang lebih realistis dan kolektif. Dengan meminjam bait-bait puisi Nyoman Tusthi Eddy dan IDK Raka Kusuma, pertunjukan ini berhasil menjadi jembatan antara tradisi dan perspektif generasi muda.

Di akhir acara, Ibu Putri Koster mendorong Kawiya untuk terus produktif. “Jangan hanya menunggu acara. Koordinasikan untuk tampil rutin di Taman Budaya. Buat program yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: