Targetkan Juara Umum Porprov 2027, Wawali Arya Wibawa Buka Rakerkot KONI Denpasar 2026
Gotong Royong vs. Pencitraan: Refleksi Bencana Banjir Bali
Foto: Gambar

DENPASAR, Letternews.net — Tanggal 10 September 2025 akan selalu terukir sebagai hari duka bagi Bali. Banjir bandang menerjang Denpasar, Badung, dan kabupaten lainnya, menelan 18 korban jiwa dan meninggalkan empat orang hilang. Di tengah musibah ini, muncul sebuah pertanyaan mendalam: apakah ini hanya bencana alam, atau sebuah peringatan dari semesta?
Bali, yang selama ini diagungkan dunia dengan filosofi Tri Hita Karana, kini dihadapkan pada sebuah ironi. Harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam yang katanya dijunjung tinggi, kini terasa retak. Kita rajin bersembahyang di pura, tapi abai pada kebersihan sungai. Kita bangga dengan budaya gotong royong, namun lebih sering saling menyalahkan. Kita gencar mempromosikan pariwisata berkelanjutan, tapi membiarkan lahan hijau tergantikan oleh beton.
Duka yang Diperdagangkan
Di tengah upaya gotong royong para relawan, panggung lain justru terbangun: panggung pencitraan. Tangan yang satu memberikan bantuan, sementara tangan yang lain sibuk mengabadikan momen dengan kamera. Bencana berubah menjadi komoditas. Duka lara rakyat Bali dimanfaatkan untuk mendulang popularitas, mendongkrak elektabilitas, dan menambah jumlah notifikasi di media sosial.
Lebih miris lagi, ada yang memoles penderitaan ini dengan selembar piagam, atau mengkritik dengan kata-kata panjang di media sosial, seolah-olah duka adalah materi debat terbuka. Mereka tidak sedang menolong, mereka berdagang simpati.
Seruan Gotong Royong Sejati
Gubernur Koster menyerukan gotong royong sebagai jalan keluar. Sebuah ajakan sederhana namun sarat makna, yang mengajak masyarakat Bali untuk menghidupkan kembali roh kolektif. Gotong royong sejati bukan sekadar mengumpulkan uang, tapi bekerja tanpa pamrih, tanpa sorot kamera, dan dengan hati yang tulus.
Jika banjir disebabkan sampah, mari kita bersama mengelola, bukan membuang. Jika akibat alih fungsi lahan, mari hentikan keserakahan yang merusak alam. Jika tata kelola air yang lemah, mari bangun sistem yang lebih bijaksana.
Banjir ini adalah pesan bahwa alam menagih janji kita untuk menjaga keseimbangan. Ketika janji itu dikhianati, alam tidak hanya menegur, tetapi juga menelanjangi kemanusiaan kita.
Bencana ini memperlihatkan dua wajah manusia: satu yang menolong dengan tangan berlumur lumpur dan hati jernih, dan satu lagi yang menolong dengan senyum di depan kamera dan hati yang keruh. Bali kini dihadapkan pada pilihan, wajah mana yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.
Penulis: Wayan Suyadnya
Editor: Rudi








