Bali Awali 2026 dengan Deflasi: Inflasi Terjaga di Angka 2,58%, Lebih Rendah dari Rata-Rata Nasional

 Bali Awali 2026 dengan Deflasi: Inflasi Terjaga di Angka 2,58%, Lebih Rendah dari Rata-Rata Nasional

Foto: Provinsi Bali catat deflasi -0,34% pada Januari 2026. Inflasi tahunan tetap terjaga di 2,58%, lebih rendah dari Nasional. Simak strategi BI Bali hadapi Nyepi & Idulfitri.

DENPASAR, Letternews.net – Provinsi Bali mencatatkan performa ekonomi yang impresif pada awal tahun 2026. Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 2 Februari 2026, Pulau Dewata mengalami deflasi sebesar -0,34% (mtm) secara bulanan. Capaian ini membawa inflasi tahunan Bali melandai ke angka 2,58% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan angka inflasi Nasional yang berada di level 3,55% (yoy).

Data ini menunjukkan bahwa inflasi Bali tetap terjaga dengan baik dalam rentang sasaran target 2,5±1%, memberikan sinyal positif bagi stabilitas daya beli masyarakat di awal tahun.

BACA JUGA:  Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Nyepi dan Ramadhan, TPID Bali Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi 2026

Analisis Spasial: Badung Pimpin Deflasi, Denpasar Perlu Waspada

Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami deflasi bulanan. Berikut adalah rincian performa wilayah:

  • Kabupaten Badung: Mengalami deflasi terdalam sebesar -0,78% (mtm) dengan inflasi tahunan paling stabil di angka 1,09% (yoy).

  • Singaraja: Mencatat deflasi bulanan -0,44% dengan inflasi tahunan 2,59% (yoy).

  • Tabanan: Mengalami deflasi bulanan -0,21% (mtm) dengan inflasi tahunan 2,00% (yoy).

  • Kota Denpasar: Mengalami deflasi -0,13% (mtm), namun inflasi tahunannya mencapai 3,60% (yoy). Angka di Denpasar ini menjadi atensi khusus karena berada sedikit di atas ambang batas sasaran.

BACA JUGA:  Sambut Nataru, Bank Indonesia Bali Siapkan Uang Tunai Rp2,9 Triliun: Simak Lokasi Penukaran Melalui Program SERUNAI

Cabai dan Bawang Jadi Penyelamat Dompet Warga

Pendorong utama deflasi di Bali pada Januari 2026 adalah penurunan harga pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Melimpahnya pasokan akibat musim panen pada komoditas cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah menjadi faktor kunci. Selain itu, penurunan harga bensin dan daging ayam ras turut menahan laju inflasi.

Namun, deflasi yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan tarif parkir, sewa rumah, emas perhiasan, serta ikan tongkol.

BACA JUGA:  Pemprov Bali Musnahkan Arsip Habis Masa Retensi

Tantangan Ramadhan, Nyepi, dan Program Makan Gratis

Menghadapi sisa Triwulan I-2026, Bank Indonesia Bali mengingatkan adanya sejumlah risiko yang patut diantisipasi, antara lain:

  1. HBKN: Peningkatan permintaan menjelang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri.

  2. Cuaca Ekstrem: Puncak musim hujan yang berpotensi mengganggu distribusi pangan dan produksi pertanian/perikanan.

  3. Program Nasional: Peningkatan permintaan pangan seiring perluasan cakupan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

BACA JUGA:  Natal Aman dan Nyaman: Polda Bali Pertebal Pengamanan 9 Gereja Prioritas di Denpasar-Badung

Strategi BI Bali: Sinergi 3 Pilar

Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dengan TPID melalui tiga pilar utama: menjaga stabilitas pasokan, efisiensi distribusi, dan penguatan regulasi.

“Kami mengintensifkan operasi pasar dengan kaidah 3T (Tepat Waktu, Tepat Lokasi, Tepat Sasaran) serta memperluas ekosistem ketahanan pangan inklusif yang melibatkan BUMDes dan koperasi,” tulis laporan tersebut. Melalui langkah strategis ini, inflasi Bali sepanjang tahun 2026 optimis tetap berada dalam sasaran 2,5±1%.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: