LetterNews
04 November 2026
20:34 WITA
Topik Populer:
#Letternews#KPK#PLN#Bali#Korupsi#Polda Bali#Wayan Koster#Denpasar#Pemkot Denpasar#OJK
08 July 2026 08:38 WITA
Penulis: Redaksi | Editor: Redaksi | Dipublikasikan: 08 July 2026, 08:38 WITA

Gong Kebyar Klungkung Pukau Ribuan Penonton di PKB 2026, Angkat 3 Karya Spektakuler Khas Nusa Penida

Foto: Duta Kabupaten Klungkung yang diwakili oleh Sekaa Gong Gita Remaja Banjar Gelagah, Desa Kutampi, Kecamatan Nusa Penida, sukses menyajikan pementasan spektakuler dan memukau ribuan pasang mata dalam ajang bergengsi Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.

DENPASAR, Letternews.net – Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, berubah menjadi lautan gemuruh tepuk tangan pada Selasa (7/7/2026) malam. Duta Kabupaten Klungkung yang diwakili oleh Sekaa Gong Gita Remaja Banjar Gelagah, Desa Kutampi, Kecamatan Nusa Penida, sukses menyajikan pementasan spektakuler dan memukau ribuan pasang mata dalam ajang bergengsi Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.

Pementasan seni tingkat tinggi ini disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Klungkung I Made Satria, Ketua TP. PKK Klungkung Ny. Eva Satria, serta jajaran Kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Klungkung yang hadir memberikan dukungan penuh dari tribun penonton.

Sekaa Gong Kebyar Gita Remaja berhasil membawakan tiga materi garapan seni yang dikemas apik, artistik, dan penuh magis. Ketiga karya tersebut memadukan unsur tari, tabuh, dan dramatari yang berakar kuat pada nilai filosofis, tradisi, serta sejarah lokal masyarakat Nusa Penida.

[irp]

Tabuh Lima Lelambatan Kreasi “Parung Gelagah”

Sebagai pembuka, para seniman muda Klungkung menyajikan Tabuh Lima Lelambatan Kreasi berjudul “Parung Gelagah”. Karya ini terinspirasi dari keagungan alam dan karakteristik topografi Desa Kutampi, Nusa Penida.

Secara etimologi, kata “Parung” berarti jurang atau lembah, sementara “Gelagah” merupakan jenis rerumputan liar berbatang tinggi di wilayah perbukitan yang di masa lampau menjadi cikal bakal berdirinya pemukiman Banjar Gelagah.

Garapan yang ditata oleh Gederan dan dibina oleh I Wayan Misna ini tetap mempertahankan pakem-pakem klasik Tabuh Lelambatan Pagongan. Mulai dari bagian Kawitan, Periring, Pengawak, Pengisep, Bebaturan, Ngembat, Batu-Batu, hingga Penyuwud. Komposisi ini menonjolkan dinamika yang terjaga serta jalinan melodi dengan teknik kekotekan yang padu pada instrumen gong kebyar, menyimbolkan keseimbangan filosofis menuju kesempurnaan hidup seni budaya Bali.

[irp]

Tari Kreasi “Tarpana Ning Kaenem”

Penampilan kedua diisi oleh Tari Kreasi “Tarpana Ning Kaenem”. Tarian ini mengangkat fragmen nilai spiritual dari tradisi Nyaronan yang sakral di Banjar Gelagah, Nusa Penida.

Tradisi ini lahir dari kisah seorang penggembala yang memohon keselamatan serta kesehatan untuk hewan ternaknya kepada Tuhan. Sebagai ungkapan syukur atas terkabulnya doa tersebut, ia berjanji (sesangi) menghaturkan sebuah ritual yadnya menggunakan sarana sapi. Karya ini dengan indah menggambarkan nilai ketulusan, pengorbanan, dan tanggung jawab spiritual mendalam manusia kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

[irp]

Fragmentari “Turus Lumbung”

Sebagai pamungkas, penonton disuguhkan Fragmentari “Turus Lumbung” yang mengusung moto kuat: “Pemberontakan hadir ketika ras manusiawi tiada, dan perlawanan tak bisa lagi ditahan”. Karya ini mengisahkan sejarah heroik dan spiritual dari tanah Nusa Penida yang gersang.

Cerita berpusat pada tokoh Nang Klepe, seorang pekerja ladang jagung yang tertindas. Akibat kelaparan hebat dan perlakuan tidak manusiawi dari majikannya, ia melakukan aksi protes nekat dengan memakan makanan sang bos lalu menggantinya dengan kotoran. Aksi ini memicu pengejaran intens dari wilayah Suana, Karangsari (Pura Goa Giri Putri), hingga Banjar Gelagah.

Di tengah kepungan, Nang Klepe mengucapkan sesangi (niskala):

“Yen kole tare tepuke sik tongos ne, kole mesaudan lakar ngae pura sik tongos ne” (Seandainya saya tidak ditemukan di tempat ini, saya berjanji akan mendirikan sebuah pura).

Berkat kekuatan niskala, ia terlindungi dari pandangan para pengejar. Setelah situasi aman, ia membuktikan janji sucinya pasca melewati tantangan masyarakat untuk membakar rumput gelagah, lalu mendirikan pura sederhana menggunakan sarana Turus Lumbung.

[irp]

Apresiasi Tinggi dari Bupati Klungkung

Bupati Klungkung, I Made Satria, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas dedikasi dan kerja keras para seniman muda, pembina, serta seluruh krama Banjar Gelagah yang terlibat.

Menurutnya, penampilan malam itu membuktikan bahwa kekayaan adat, sejarah lokal, dan seni khas dari seberang pulau (Nusa Penida) mampu disajikan dengan estetika tinggi dan berkelas di panggung budaya utama Bali.

Editor: Rudi

Mari bergabung bersama kami!