Melawan Tirani Algoritma: Mengapa Kita Tak Boleh Jadi ‘Budak Digital’ yang Membunuh Kebenaran?
Foto: Ketua Umum JMSI, Teguh Santosa

OPINI, Letternews.net – Di era ketika kecepatan mengalahkan kedalaman, ruang publik kita sedang mengalami krisis makna. Disrupsi digital yang semula menjanjikan demokratisasi informasi justru melahirkan paradoks: ruang publik semakin bising, namun semakin miskin substansi.
Kita tengah terjebak dalam dominasi algoritma. Mesin ini tidak peduli pada kebenaran; ia hanya memuja engagement. Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai “budak algoritma”—pengguna yang bukan lagi pemilik platform, melainkan pekerja sukarela yang memberi makan mesin dengan emosi, amarah, dan drama.
Pelajaran Pahit dari Pelintiran Kasus Poso
Logika algoritma menciptakan standar baru: yang viral dianggap benar, dan yang benar seringkali tak viral. Contoh nyata adalah pelintiran pernyataan Jusuf Kalla (JK) mengenai konflik Poso.
Dalam forum rekonsiliasi, JK menjelaskan akar konflik yang kompleks secara akademis dan faktual. Namun, video tersebut dipotong menjadi hanya 11 detik, dijahit dengan gambar kerusuhan lama, dan disebar dengan narasi provokatif. Ini bukan sekadar misinformasi, melainkan malinformasi sengaja yang bertujuan menciptakan musuh bersama demi trafik.
Dari Watchdog Menjadi Clickdog
Krisis ini juga mengancam media arus utama. Tekanan trafik memaksa sebagian redaksi terjebak dalam perlombaan dramatisasi. Fungsi jurnalisme bergeser dari watchdog (penjaga) menjadi clickdog (pemburu klik).
Padahal, merujuk pada Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Bukan kebenaran versi algoritma yang memuaskan bias, melainkan kebenaran faktual melalui disiplin verifikasi.
Pers Sebagai Benteng Akal Sehat
Menjadi “budak algoritma” berarti kehilangan otonomi berpikir. Kita bereaksi tanpa refleksi, meneruskan tanpa memeriksa, dan menghakimi tanpa memahami. Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) menegaskan bahwa media siber wajib kembali ke khitah: Kode Etik Jurnalistik adalah harga mati.
Memulihkan ruang publik butuh keberanian—keberanian untuk tidak ikut viral jika dibangun di atas kebohongan, dan keberanian untuk kalah cepat asal menang benar. Jika pers menyerah pada algoritma, maka hilang pula benteng terakhir bagi akal sehat bangsa.
Editor: Rudi.







