Perkuat Ketahanan Pangan, DPD Tani Merdeka Indonesia se-Bali Resmi Dilantik
Menelusuri Jejak Kemanusiaan di Munduk Lampah: Dari Rumah Longsor Hingga Kisah Kaki Sukra di Kandang Sapi
AKSI NYATA: Bonal bersama tim Creative MSP dan Kadus Munduk Lampah, I Wayan Arisana, saat menyerahkan bantuan sembako dan kursi roda kepada warga. Tampak kondisi memprihatinkan salah satu rumah warga yang terdampak longsor namun belum tertangani sejak dua tahun lalu.

TABANAN, Letternews.net – Semangat kepedulian kembali ditunjukkan melalui aksi sosial bertajuk “Berbuat dan Berbagi” yang menyasar warga di Banjar Munduk Lampah, Sabtu (18/4). Bersama Kepala Dusun (Kadus) Munduk Lampah, I Wayan Arisana, tim bergerak menyalurkan bantuan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dalam aksi kali ini, sejumlah bantuan berhasil disalurkan berkat dukungan donatur, di antaranya 10 paket sembako dari Bli Ceblok dan istri, serta 10 potong baju baru dan satu unit kursi roda dari Garda Law Office. Penyerahan bantuan dipusatkan di tiga titik lokasi, yaitu Subak Gambih, Subak Ngalawan, dan Subak Tiblun, guna menjangkau warga secara efektif.
Sebanyak 10 warga yang masuk dalam data kurang mampu menerima paket sembako tersebut, yakni: Sukra, Me Tetup, Me Santring, Nulitri, Dugdug, Tiasa, Media, Me Buncing, Nang Tambun, dan I Geloh. Sementara itu, bantuan kursi roda diserahkan khusus untuk Nik Me Buncing guna menunjang mobilitasnya.
Temuan Memprihatinkan di Lapangan Perjalanan kemanusiaan yang turut didampingi Tim Creative MSP (Bonal, Kadek Riyan, Agung, dan Yully) ini mengungkap dua realita yang membutuhkan perhatian serius pemerintah:
-
Rumah Bolong Kaki Mangku Tambun: Di wilayah Gambih, tim menemukan rumah Kaki Mangku Tambun yang kondisinya memprihatinkan. Dinding rumah tampak bolong akibat terjangan longsor dua tahun silam dan hingga kini belum tersentuh perbaikan. Melalui Bli Kadus, Kaki Mangku Tambun berharap pemerintah daerah dapat segera memberikan bantuan renovasi.
-
Kisah Kaki Sukra dan “Bada Sampi”: Kejadian unik sekaligus menyentuh ditemukan saat tim menemui Kaki Sukra. Meski memiliki keluarga yang peduli, beliau memilih untuk tinggal dan tidur di Bada Sampi (kandang sapi) di tengah kawasan hutan.
Setelah melalui pendekatan dan bujukan dari tim bersama Bli Kadus, Kaki Sukra akhirnya melunak dan bersedia melakukan pengurusan KTP. Langkah ini menjadi krusial agar beliau bisa terdata dalam sistem Jaring Pengaman Sosial (JPS) pemerintah secara maksimal.
Aksi sosial ini diharapkan menjadi pengingat bagi Dinas Sosial untuk lebih intensif memonitor kondisi warga di pelosok desa. Semoga gerakan kecil ini membawa manfaat besar bagi nilai-nilai kemanusiaan di Bali.
Editor: Rudi.







