
DENPASAR, Letternews.net – Menjelang Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948, atmosfer kreativitas seni mulai menyelimuti Kota Denpasar. Berbagai festival ogoh-ogoh skala besar siap digelar, mulai dari Sanur Metangi, Festival Budaya Sesetan, hingga Parade Sandikala di Padangsambian Kelod. Rentetan acara ini menjadi panggung utama bagi yowana (generasi muda) untuk unjuk gigi dalam melestarikan tradisi Bali.
Dukungan penuh disampaikan oleh Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, saat menerima audiensi para panitia festival di Kantor Walikota Denpasar, Kamis (5/3/2026).
[irp]
Salah satu agenda besar yang dinanti adalah Sanur Metangi Festival pada 11–12 Maret 2026. Berlokasi di Pantai Mertasari, festival ini tak hanya menampilkan parade, tapi juga berbagai lomba mulai dari sketsa, tapel, hingga ogoh-ogoh mini.
“Kami menyiapkan layanan shuttle dari Desa Adat Intaran untuk memudahkan juri dan masyarakat menyaksikan 27 karya terbaik se-Sanur,” ujar Ketua Panitia, Ida Bagus Prajiskana Jisnu.
[irp]
Berbeda dengan Sanur, Sabha Yowana Desa Adat Sesetan mengusung konsep pameran statis di Lapangan Pameran Sesetan mulai 16-18 Maret. Hal ini bertujuan agar masyarakat bisa menikmati detail karya seni tanpa mengganggu arus lalu lintas.
Sementara itu, di Desa Padangsambian Kelod, Karang Taruna Kusuma Praja siap menggelar Parade Ogoh-Ogoh Sandikala pada malam pengerupukan, 18 Maret, yang melibatkan 13 karya di sepanjang Jalan Teuku Umar Barat.
[irp]
Wawali Arya Wibawa menegaskan bahwa Pemkot Denpasar hadir sebagai fasilitator keamanan dan kenyamanan. Menurutnya, festival-festival ini adalah cara terbaik untuk mengarahkan energi anak muda ke hal-hal positif.
“Konsep Sanur Metangi, Sesetan, hingga Sandikala ini sangat bagus. Selain mempererat kebersamaan, ini adalah ruang kreatif bagi anak muda untuk berkarya. Terlebih di kawasan pariwisata, inovasi budaya seperti ini menjadi daya tarik luar biasa bagi wisatawan,” tegas Arya Wibawa yang didampingi Kadispar Ni Luh Putu Riyastiti.
Editor: Rudi.