OJK dan ADB Gelar Forum ABMF ke-45: Bidik Pasar Obligasi Berkelanjutan Indonesia Tembus Rp54 Triliun

 OJK dan ADB Gelar Forum ABMF ke-45: Bidik Pasar Obligasi Berkelanjutan Indonesia Tembus Rp54 Triliun

Foto: OJK dan ADB dorong penguatan pasar obligasi lokal dan keuangan berkelanjutan di ASEAN+3 melalui forum ABMF 2026 di Yogyakarta. Simak capaian SDGs Indonesia.

YOGYAKARTA, Letternews.net — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asian Development Bank (ADB) resmi membuka rangkaian kegiatan 45th ASEAN+3 Bond Market Forum (ABMF) di Yogyakarta, Senin (02/02/2026). Pertemuan strategis ini memfokuskan pada penguatan pasar obligasi mata uang lokal (Local Currency Bond Market) dan integrasi keuangan berkelanjutan guna menjaga stabilitas ekonomi kawasan.

Direktur Eksekutif Kelompok Spesialis Pasar Modal OJK, Retno Ici, menegaskan bahwa kolaborasi antara regulator, investor, dan organisasi internasional sangat krusial dalam menciptakan pasar modal yang inklusif dan berorientasi masa depan.

BACA JUGA:  Lulusan Tak Perlu Diragukan, SMK Farmasi Saraswati 3 Denpasar Buka PPDB

Keuangan Berkelanjutan: Melampaui Sekadar ‘Hijau’

Dalam sambutannya, Retno Ici memaparkan bahwa OJK terus memperluas cakupan obligasi berkelanjutan melalui POJK Nomor 18 Tahun 2023. Regulasi ini kini tidak hanya menyasar aspek lingkungan (green), tetapi juga aspek sosial dan keberlanjutan lainnya.

“Hingga akhir Desember 2025, nilai outstanding obligasi dan sukuk korporasi berkelanjutan di Indonesia telah menembus angka Rp54,94 triliun (setara USD3,28 miliar). Publikasi Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) menjadi penggerak utama dalam menyelaraskan proyek nasional dengan standar internasional,” jelas Retno.

BACA JUGA:  Konsisten Jalankan Tradisi Bali, Tokoh Pendidikan: Sejak Awal Yakin Koster Gubernur Bali 2 Periode

Mengurangi Ketergantungan Pendanaan Eksternal

Pengembangan pasar obligasi mata uang lokal dinilai sebagai langkah defensif yang cerdas terhadap guncangan global. Dengan memperkuat obligasi rupiah, Indonesia dapat:

  • Mengurangi risiko nilai tukar asing.

  • Diversifikasi sumber pendanaan untuk infrastruktur jangka panjang.

  • Mewujudkan resiliensi ekonomi nasional terhadap ketidakpastian eksternal.

BACA JUGA:  OJK Bali Tingkatkan Inklusi Keuangan Syariah

Direktur Strategi Pembiayaan Kementerian PPN/Bappenas, Mada Dahana, menambahkan bahwa Indonesia saat ini berada di jalur yang tepat menuju visi Indonesia Emas 2045. Berdasarkan Sustainable Development Report 2025, skor Indonesia mencapai 70,2, melampaui rata-rata global sebesar 69,5.

Inovasi Aset Digital dan Transaksi Lintas Batas

Selama tiga hari (2-4 Februari 2026), forum yang diikuti 200 peserta ini juga membahas isu futuristik melalui 3rd Digital Bond Market Forum (DBMF) dan 34th Cross-Border Settlement Infrastructure Forum (CSIF).

Fokus utamanya adalah pada pengembangan aset digital serta studi kasus transaksi obligasi pemerintah lintas batas untuk mewujudkan keterkaitan erat antara bank sentral dan lembaga penyimpanan efek di kawasan ASEAN+3 (ASEAN, Cina, Jepang, dan Korea Selatan).

Editor: Rudi.

.

Bagikan: