Kesenian Kontemporer Bali Butuh Panggung Seimbang, Ibu Putri Koster Siapkan Lomba Drama Modern
Wajah Kota Tercoreng? Pedagang Menjamur di Jantung Denpasar, Masalah Sampah di Lapangan Puputan Mulai Dikeluhkan
Foto: Situasi Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung

DENPASAR, Letternews.net – Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung atau yang lebih dikenal dengan Lapangan Puputan Badung, kembali menjadi sorotan publik. Area yang seharusnya menjadi ruang terbuka hijau dan tempat bermain anak yang ramah, kini kondisinya kian memprihatinkan lantaran berubah fungsi menjadi layaknya ‘pasar senggol’, Jumat (27/3/2026).
Pantauan di lokasi menunjukkan puluhan pedagang kaki lima memenuhi sisi area bermain anak. Kehadiran para pedagang ini dinilai mulai tidak terkendali, sehingga menciptakan kesan kumuh di jantung Kota Denpasar.
Strategis Tapi Kumuh
Sejumlah warga yang berkunjung mengeluhkan minimnya penataan dan penertiban. Lokasi yang sangat strategis ini memang menjadi daya tarik bagi pedagang, namun jika dibiarkan tanpa aturan, dikhawatirkan akan merusak estetika kota.
“Kondisinya sudah tidak sedap dipandang. Area bermain anak yang harusnya luas dan bersih, sekarang penuh sesak. Belum lagi urusan sampahnya, kita tidak tahu mereka buang ke mana,” ujar Luh Suriani pengunjung.
Depan Kantor Walikota, Di Mana Satpol PP?
Hal yang paling disayangkan warga adalah lokasi keramaian pedagang ini berada tepat di depan kantor pusat pemerintahan, yakni Kantor Walikota Denpasar. Kondisi yang semrawut ini memicu pertanyaan masyarakat mengenai keberadaan petugas penegak perda.
“Ini depan Kantor Walikota lho, kok bisa semakin tidak tertib? Satpol PP ke mana ya? Harusnya ada pengawasan rutin agar lokasi ikonik Denpasar ini tidak terlihat seperti pasar yang tak terurus,” ungkap warga lainnya dengan nada kecewa.
Masyarakat berharap Pemerintah Kota Denpasar, khususnya Satpol PP, segera turun tangan untuk melakukan penataan. Warga tidak melarang orang mencari nafkah, namun penempatan dan kebersihan lingkungan harus tetap menjadi prioritas utama demi kenyamanan bersama di ruang publik.
Editor: Rudi.







