Kesenian Kontemporer Bali Butuh Panggung Seimbang, Ibu Putri Koster Siapkan Lomba Drama Modern
Tanggapi Bully di Media Sosial, Wayan Koster: Itu Risiko Pemimpin, Saya Pilih Tetap Fokus Bekerja!
Foto: Gubernur Bali Wayan Koster silaturahmi dengan media di Kertasabha. Tekankan pentingnya media dalam menyukseskan program Haluan Bali 100 Tahun.

DENPASAR, Letternews.net – Gubernur Bali periode 2018-2023 yang juga tokoh masyarakat Bali, Wayan Koster, akhirnya angkat bicara mengenai masifnya kritik hingga perundungan (bullying) yang diarahkan kepada dirinya di media sosial. Di tengah dinamika digital yang semakin tajam, pria asal Desa Sembiran ini menanggapi fenomena tersebut dengan sikap tenang dan terbuka.
Koster mengakui bahwa dirinya kerap menjadi sasaran empuk para netizen terkait berbagai kebijakan dan langkah-langkah yang ia ambil selama masa kepemimpinannya dalam membangun Bali.
Memilih “Cuek” dan Tetap Produktif
Meski sering menerima komentar pedas, Wayan Koster memilih untuk tidak ambil pusing. Baginya, energi yang ada lebih baik dialokasikan untuk menuntaskan program-program strategis demi kesejahteraan krama Bali daripada meladeni perdebatan di dunia maya.
“Saya tahu banyak yang membully di media sosial. Tapi saya memilih untuk cuek saja. Tugas saya adalah bekerja untuk Bali, dan itu yang tetap saya lakukan,” ungkapnya saat dimintai keterangan baru-baru ini.
Mempersilakan Warga Mengkritik: “Itu Risiko Jabatan”
Secara mengejutkan, Koster justru mempersilakan warga untuk terus menyampaikan aspirasi, termasuk melalui bullying, jika hal tersebut dirasa perlu. Menurutnya, mendapatkan kritik tajam hingga perundungan adalah konsekuensi logis yang harus siap dihadapi oleh siapa pun yang memilih jalan sebagai pemimpin publik.
“Silakan saja bully, tidak apa-apa. Karena itu adalah risiko seorang pemimpin. Setiap kebijakan pasti ada yang setuju dan tidak setuju, itu hal yang biasa dalam demokrasi,” tambah sosok di balik konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali ini.
Fokus pada Pembangunan Infrastruktur dan Budaya
Alih-alih membalas perundungan, Koster menegaskan komitmennya untuk tetap berpijak pada jalur pembangunan Bali yang komprehensif, mulai dari penguatan adat istiadat hingga pembangunan infrastruktur monumental yang saat ini sedang berjalan. Baginya, hasil kerja nyata di lapangan jauh lebih penting daripada opini sementara di media sosial.
Sikap terbuka Koster ini menuai beragam reaksi. Sebagian pihak menilai ini adalah bentuk kematangan berpolitik, sementara yang lain berharap ada ruang dialog yang lebih sehat antara pemerintah dan warga di ruang digital.
Editor: Rudi.







