Refleksi Hari Ibu di Universitas Mahendradatta: Meneladani Gunapriya Dharmapatni, Cetak Generasi Tangguh Menuju Indonesia Emas 2045
Foto: Talkshow inspiratif di Universitas Mahendradatta menghadirkan Ni Luh Putu Widyantari. Bahas peran strategis ibu akademisi dalam mencetak generasi tangguh 2045.

DENPASAR, Letternews.net – Kampus Pusat Universitas Mahendradatta (Unmar) menjadi saksi bisu sebuah diskusi hangat dan inspiratif pada Senin (22/12/2025). Dalam rangka memperingati Hari Ibu, digelar Talkshow Interaktif bertajuk “Perempuan Akademisi dalam Membangun Generasi Tangguh yang Berkarakter dan Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045”.
Acara ini menghadirkan sosok perempuan multitalenta, Ni Luh Putu Widyantari, S.S., M.AP., yang dikenal sebagai akademisi sekaligus praktisi. Selain menjabat sebagai Kabid Penempatan Tenaga Kerja Disperinaker Badung, beliau juga merupakan Dosen MAP Universitas Mahendradatta dan aktif sebagai Sekretaris Kwarda Bali serta pengurus organisasi bela diri (Perisai Diri & IPSI Bali).
Politik Kasih Sayang: Gelar “Ibu” yang Abadi
Membuka diskusi, Ni Luh Putu Widyantari mengajak peserta menoleh kembali pada sosok Gunapriya Dharmapatni atau Mahendradatta. Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa tanah Bali telah melahirkan pemimpin perempuan cerdas jauh sebelum istilah women empowerment populer.
“Sebagai akademisi, kita terbiasa dengan metodologi dan data. Namun di rumah, kita belajar tentang empati dan ketangguhan tanpa syarat. Ada satu gelar yang tidak pernah selesai masa studinya: Gelar sebagai Ibu,” ungkapnya di hadapan jajaran rektorat dan mahasiswi.
Beliau memperkenalkan konsep “Politik Kasih Sayang”, di mana intelektualitas akademisi digunakan untuk membangun ‘Negara Kecil’ di rumah. Baginya, ibu adalah madrasah pertama yang harus memiliki metode dalam menyaring informasi di era disrupsi.
Melawan “Stunting Intelektual” Menuju 2045
Dalam sesi interaktif, ditekankan bahwa menyongsong Indonesia Emas 2045, peran ibu akademisi sangat krusial dalam menanamkan 6 Literasi Dasar (Baca-Tulis, Numerasi, Sains, Digital, Finansial, serta Budaya & Kewargaan).
“Kita tidak hanya melawan stunting fisik, tapi juga harus melawan stunting intelektual. Ibu yang berdaya akan mengajarkan cara belajar (learning how to learn), bukan sekadar menghafal,” tegas Widyantari.
Berikut adalah tiga pilar utama yang dibahas dalam talkshow tersebut:
-
Berdaya (Empowered): Memiliki otoritas atas diri dan ilmu pengetahuan. Berpikir kritis dalam mengelola rumah tangga.
-
Berkarya (Productive): Menghilirisasi riset ke dalam pola asuh, sehingga anak melihat ibu sebagai role model yang produktif.
-
Berdampak (Impactful): Mencetak “output” manusia yang memiliki etika, integritas, dan nasionalisme kokoh.
Karakter Unggul dan Profil Pelajar Pancasila
Diskusi juga menyoroti pentingnya pembentukan Karakter Unggul atau Profil Pelajar Pancasila. Menuju 2045, Indonesia tidak hanya butuh generasi yang pintar secara digital, tetapi juga yang mandiri, kreatif, bernalar kritis, dan memiliki akhlak mulia.
“Menjadi perempuan akademisi bukan tentang seberapa tinggi gelar di depan nama kita, tapi seberapa besar cahaya ilmu itu bisa menerangi jalan anak-anak kita. Di tangan ibu yang berdaya, lahir bangsa yang berjaya,” pungkasnya yang disambut tepuk tangan riuh peserta.
Editor: Rudi.








