Demo di Depan DPR Memakan Korban, Ojek Online Tewas di Tengah Kericuhan
Rahasia Cantik dari Desa Sibang Gede: Bunga Sandat dan Cempaka Disulap Menjadi Masker Herbal Bernilai Ekonomi

Foto bersama tim KKN, pemateri, dosen pembimbing KKN, dan seluruh peserta di akhir kegiatan sebagai wujud keberhasilan dan kebersamaan dalam acara ini.
Badung, Letternews.net — Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, merupakan salah satu pusat penghasil bunga cempaka dan sandat (kenanga) di Bali dengan ribuan pohon yang mekar sepanjang tahun. Selama ini, hasil panen bunga tersebut sebagian besar hanya dipasarkan dalam bentuk segar untuk kebutuhan upacara adat. Padahal kedua jenis bunga ini mengandung senyawa bioaktif seperti minyak atsiri, flavonoid, dan antioksidan. Senyawa tersebut bermanfaat bagi kesehatan kulit, mulai dari melembutkan, mencerahkan, hingga memperlambat proses penuaan. Sayangnya potensi ini belum banyak digarap sebagai produk bernilai tambah.

Sebagai upaya melestarikan sekaligus mengoptimalkan kearifan lokal, mahasiswa KKN Alternatif Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar Angkatan 48 Periode II melaksanakan program bertema “Rahasia Kecantikan Tradisional: Eksplorasi Masker Wajah Bunga Sandat dan Cempaka” dan “Meracik Masker, Merawat Warisan: Demonstrasi Pembuatan Masker Bunga Sandat dan Cempaka” pada tanggal 2 Agustus 2025 di Kantor Desa Sibang Gede. Program ini memfokuskan pada edukasi pemanfaatan bunga lokal disertai praktik langsung pembuatan masker herbal alami.
Kegiatan menghadirkan narasumber dari Fakultas Farmasi, apt. Maria Malida Vernandes Sasadara, S.Farm., M.P., yang menjelaskan manfaat bunga sandat dan cempaka untuk kecantikan kulit. “Bunga sandat dan cempaka mengandung antioksidan alami yang menutrisi kulit, menjaga kelembapan, dan memperlambat tanda penuaan. Dengan cara pengolahan sederhana, masyarakat dapat membuat masker herbal yang murah, aman, dan efektif,” ungkap apt. Maria.

Peserta kegiatan difokuskan pada ibu-ibu PKK Desa Sibang Gede, dengan 22 orang yang mengikuti rangkaian acara, mulai dari pre-test dan post-test untuk evaluasi kegiatan, penyampaian materi interaktif, hingga kuis. Mahasiswa juga membagikan brosur edukasi agar pengetahuan dapat disebarluaskan ke masyarakat lainnya. Selain penyuluhan, acara dilengkapi dengan demonstrasi langsung pembuatan masker wajah berbahan dasar bunga cempaka, bunga kenanga, dan beras. Mahasiswa memperlihatkan tahapan pengolahan bunga sandat dan cempaka menjadi masker wajah, mulai dari pembersihan, penumbukan bersama beras, hingga pencampuran dengan air mawar. Suasana kian meriah ketika para ibu PKK mencoba meracik sendiri, melakukan pengemasan produk, hingga mengaplikasikannya pada kulit tangan.
Keriuhan dan antusiasme saat kegiatan berlangsung ternyata sejalan dengan hasil evaluasi. Nilai post-test yang lebih tinggi dibandingkan pre-test menegaskan bahwa penyampaian materi yang dipadukan dengan demonstrasi langsung bukan hanya menyenangkan, tetapi juga efektif menambah pengetahuan ibu-ibu PKK dalam memanfaatkan bunga lokal sebagai masker herbal alami. Respon peserta juga sangat positif. “Kegiatan ini sangat bermanfaat, apalagi bahannya mudah didapat di desa. Harapan kami, program seperti ini bisa dikembangkan menjadi usaha kecil bagi ibu-ibu PKK,” tutur Ibu Vina, salah satu peserta.

Masker herbal berbahan bunga sandat dan cempaka dinilai berpotensi dikembangkan menjadi usaha rumah tangga, sehingga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Dengan dukungan penuh dari perangkat desa, kegiatan ini diharapkan mampu menghidupkan kembali kearifan lokal melalui inovasi herbal. Kini bunga sandat dan cempaka tidak hanya berfungsi sebagai simbol upacara adat, tetapi juga menjadi lambang inovasi kecantikan alami yang bernilai ekonomi bagi masyarakat Desa Sibang Gede.
Editor: Anto.