Kesenian Kontemporer Bali Butuh Panggung Seimbang, Ibu Putri Koster Siapkan Lomba Drama Modern
Potret Buram TPA Suwung: Di Balik Instruksi Pilah Sampah, Fasilitas Pengolahan Masih Terbengkalai
Foto: Foto antrean truk sampah yang memanjang

DENPASAR, Letternews.net – Kondisi pengelolaan sampah di Bali kembali menjadi rapor merah. Saat akses pembuangan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung mulai dibatasi akibat penutupan akses jalan bagian selatan, Pemerintah Provinsi Bali dinilai belum siap menyediakan solusi alternatif yang optimal. Sistem open dumping yang selama ini dikritik nyatanya masih menjadi tumpuan utama yang rapuh.
Realita ini terlihat jelas saat Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, melakukan tinjauan mendadak (sidak) ke TPA Suwung pada Kamis (5/3/2026) siang. Kedatangan Menteri langsung disambut pemandangan antrean truk sampah yang mengular panjang hingga mencapai kawasan Desa Serangan.
Infrastruktur “Benyah Latig”
Kondisi di dalam area TPA jauh dari kata layak. Akses jalan tampak rusak parah atau benyah latig dan berlumpur akibat guyuran hujan, yang semakin mempersulit mobilitas truk pengangkut. Di sisi lain, harapan publik pada dua unit Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tahura untuk menyerap sampah Kota Denpasar pun masih jauh dari api.
Operasional kedua TPST tersebut belum maksimal. Kendala teknis seperti kurangnya daya listrik membuat mesin pengolah sampah tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Masalah Tenaga Kerja dan Mesin Terbengkalai
Pengawas TPST, Made Widya Adnyana Astawa, mengungkapkan bahwa dari dua unit yang ada, baru TPST Tahura I yang beroperasi sejak Desember 2025 lalu. Itu pun kapasitasnya baru menyentuh angka 35 hingga 45 ton sampah per hari.
“Masalah utama yang mengganjal adalah keterbatasan tenaga kerja. Selain itu, TPST Tahura II masih terbengkalai menunggu pemasangan mesin,” jelas Astawa saat mendampingi tinjauan Menteri.
Situasi kian rumit karena sampah yang masuk ke TPST belum 100 persen terpilah dari sumber. Akibatnya, petugas di lapangan harus melakukan pemilahan manual yang memakan waktu dan tenaga ekstra. Kondisi ini membuktikan bahwa jargon “Bali Bersih” masih terbentur pada infrastruktur yang belum siap dan manajemen yang belum matang.
Editor: Rudi.







