Demo di Depan DPR Memakan Korban, Ojek Online Tewas di Tengah Kericuhan
Polemik Metatah Massal di Denpasar: Upacara sebagai Beban atau Bakti?

Foto: Upacara Metatah
Denpasar, Letternews.net – Beredarnya rencana upacara metatah massal di media sosial yang mengusung narasi “meringankan beban umat” menuai sorotan tajam. Pernyataan ini dianggap sebagai paradoks yang menyingkap anggapan bahwa upacara dalam agama Hindu kini dianggap sebagai beban yang memberatkan.
Seorang warga Hindu Bali yang telah lama bermukim di Jakarta dan kini kembali ke Bali merasa heran dengan narasi tersebut. Ia mempertanyakan mengapa upacara, yang merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar ajaran Hindu (bersama tatwa dan susila), kini diposisikan sebagai beban.
“Jika hari ini upacara dianggap beban, apakah besok giliran susila dianggap beban? Lusa tatwa juga dianggap beban? Lalu untuk apa memilih agama yang memberatkan?” tulis Wayan Suyadnya.
Makna Yadnya dan Paradoks di Balik Acara Massal
Menurutnya, ajaran Hindu justru memberikan keringanan melalui konsep berupacara nista, madya, dan utama. Ada tingkatan kesederhanaan, bahkan bisa dilakukan hanya dengan bunga, air, dan api. Upacara seperti ngaben atau metatah tidak pernah mewajibkan bentuk yang besar dan mewah. Ia menekankan bahwa upacara bisa disesuaikan dengan kemampuan (desa kala patra) dan bahkan bisa ditunda.
Wayan Suyadnya berpendapat bahwa upacara menjadi beban bukan karena ajaran, melainkan karena salah tafsir dan keinginan lain yang menyertainya. Upacara menjadi beban ketika gengsi mengalahkan makna dan ketika ngaben atau metatah dipaksakan harus megah.
Paradoks lainnya muncul ketika acara upacara massal ini didanai oleh donasi pihak lain atau bahkan anggaran pemerintah. Menurutnya, yadnya (persembahan suci) adalah bakti yang harus tulus dan fokus, bukan formalitas yang bisa dialihkan tanggung jawabnya.
“Apa artinya yadnya jika kewajiban pribadi dialihkan menjadi proyek kolektif yang dibiayai dari luar?” tanya Wayan Suyadnya.
Ia menegaskan, jika setiap orang kembali pada makna sederhana yadnya—yang dilandasi ketulusan dan dilakukan dengan apa adanya—maka tidak akan ada beban sama sekali. Hindu, menurutnya, adalah ajaran yang memudahkan, bukan mempersulit.
Editor: Rudi.