Kuningan di Lombok: Umat Hindu Mulai Maturan Sejak Tengah Malam, Wariga Bali dan Tradisi Menangkan Logika Kosmologis
Foto: Penjor

MATARAM, Letternews.net – Perayaan Kuningan di Lombok diwarnai sebuah spiritual yang menarik, yakni mengenai waktu memulai ritual maturan (persembahan). Di tengah guyuran hujan lebat pada hari raya Kuningan (Sabtu, 27/11/2025), umat Hindu di Lombok menjalankan tradisi sakralnya dengan memulai persembahan sejak tengah malam—jauh sebelum matahari terbit yang menurut kalender Saka menandai awal hari suci.
Fenomena ini dicatat sebagai pertentangan antara kebenaran kosmologis (Wariga Saka) dan kebenaran tradisi (desa kala patra).
Menurut Wayan Suyadnya, pengamat budaya yang menulis catatan ini, meskipun kalender Saka menetapkan hari baru dimulai saat matahari terbit, tradisi di Lombok dengan mantap menjawab: Tengah malam sudah bisa maturan Kuningan.
“Di sanalah paradoks itu tumbuh subur: ketika kebenaran kosmologis dan kebenaran tradisi tidak lagi bersisian. Jawabannya tersembunyi di sela dupa dan wariga: Umat Hindu di Lombok berpijak pada Wariga Bali,” tulis Suyadnya.
Fokus pada Wariga dan Desa Kala Patra
Wariga Bali, yang menghitung ritme kosmis melalui pawukon, wewaran, dan sasih, dianggap lebih menyatu dengan kearifan lokal (desa kala patra – tempat, waktu, dan kondisi). Artinya, spiritualitas dan keyakinan lebih lentur mengikuti adat daripada angka jam yang dingin.
Ritual yang dijalankan umat Hindu Lombok meliputi:
-
Maturan di sanggah kemulan sejak malam hari.
-
Perjalanan suci ke pura ibu.
-
Munjung ke setra (bagi leluhur yang belum diaben) atau ke pantai (bagi keluarga yang baru diaben).
-
Diakhiri dengan natab semayut sulangi.
Namun, muncul pertanyaan dari generasi muda yang tumbuh dengan kalender digital: Jika hari Kuningan sesungguhnya baru lahir saat fajar, mengapa ritual dimulai saat bulan masih mengawasi?
Catatan ini ditutup dengan kesimpulan bahwa di Lombok, Kuningan dirayakan dalam sebuah kenyataan indah: Ketika waktu diatur bukan oleh langit, melainkan oleh keyakinan. Ketika tradisi lebih benar daripada logika.
Editor: Rudi.








