Kinerja Industri Jasa Keuangan Bali-Nusra Stabil: Kredit Investasi Tumbuh 38%, Investor Pasar Modal Tembus 670 Ribu

 Kinerja Industri Jasa Keuangan Bali-Nusra Stabil: Kredit Investasi Tumbuh 38%, Investor Pasar Modal Tembus 670 Ribu

Foto: Kepala OJK Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu

DENPASAR, Letternews.net – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali melaporkan kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) di wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Nusra) posisi Oktober 2025 menunjukkan ketahanan yang sangat kuat. Di tengah dinamika global, sektor keuangan wilayah ini tetap solid yang ditopang oleh permodalan tinggi dan profil risiko yang terkendali.

Kepala OJK Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu, menyatakan bahwa stabilitas ini menjadi bantalan penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

BACA JUGA:  Menteri PPPA RI Tinjau Fasilitas Taman Bermain Anak di Denpasar

Intermediasi Perbankan: Lonjakan Drastis Kredit Investasi

Sektor perbankan di Bali dan Nusa Tenggara mencatatkan pertumbuhan kredit yang impresif. Hingga Oktober 2025, penyaluran kredit mencapai Rp245,02 triliun, tumbuh 7,99% (yoy). Jika dilihat berdasarkan lokasi proyek, angka ini bahkan menembus Rp321,34 triliun (tumbuh 12,08% yoy).

Poin penting dalam pertumbuhan ini adalah dominasi kredit produktif sebesar 57,70%, dengan rincian:

  • Kredit Investasi: Tumbuh fantastis 38,52% (yoy) atau bertambah Rp18,31 triliun.

  • Kredit Modal Kerja: Menyumbang 30,82% dari total penyaluran.

“Tingginya pertumbuhan kredit investasi ini menggambarkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap prospek kondisi ekonomi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara,” ungkap Kristrianti Puji Rahayu (19/12/2025).

BACA JUGA:  JPU Hadirkan Lima Orang Saksi Mantan Pegawai BPN Denpasar di Perkara Pemalsuan Silsilah Jero Kepisah

Analisis Regional: Pertambangan NTB dan Konsumsi Bali

OJK mencatat perbedaan motor penggerak kredit di tiap provinsi:

  • Provinsi Bali: Didorong oleh Sektor Penerima Kredit Bukan Lapangan Usaha (tumbuh Rp1,91 triliun).

  • Provinsi NTB: Melejit berkat Sektor Pertambangan dan Penggalian yang tumbuh 58,61% (yoy).

  • Provinsi NTT: Disumbangkan oleh Sektor Penerima Kredit Bukan Lapangan Usaha (tumbuh Rp1,95 triliun).

Meskipun penyaluran kredit ke UMKM sedikit melandai di angka 0,30% (yoy), porsinya tetap besar yakni 41,30% dari total kredit, membuktikan keberpihakan perbankan pada ekonomi kerakyatan.

BACA JUGA:  Digadang-gadang Sebagai Calon Bupati Klungkung, Juliarta: Siap Optimalkan Pembangunan Pariwisata

Pasar Modal dan Pembiayaan: Pertumbuhan Investor Double Digit

Sektor Pasar Modal di Bali-Nusra mencatatkan pertumbuhan investor yang luar biasa. Jumlah investor mencapai 679.792 SID, melonjak 27,33% (yoy). Nilai transaksi saham pun tumbuh signifikan sebesar 57,17% (yoy) dengan total nilai Rp8,24 triliun.

Di sisi lain, Perusahaan Pembiayaan (Finance) tetap tumbuh positif dengan piutang sebesar Rp19,68 triliun (tumbuh 3,50% yoy), sementara Modal Ventura tumbuh 7,17% (yoy).

BACA JUGA:  Digandeng AIPI, Fisip Unwar Gelar Seminar Nasional bertajuk Meneguhkan Persatuan melalui Pemilu dan Kaji Ulang UUD NRI 1945: Sebuah Diskursus Kritis

Edukasi dan Pelindungan Konsumen

OJK tidak hanya fokus pada angka, tetapi juga pada literasi keuangan. Sepanjang 2025, telah dilaksanakan 10.484 kegiatan edukasi yang menjangkau lebih dari 117 ribu orang secara tatap muka dan 436 ribu orang via media sosial.

Terkait pelindungan konsumen, OJK telah menerima 1.999 pengaduan hingga November 2025. Dari jumlah tersebut, 1.796 pengaduan telah berhasil diselesaikan. Mayoritas keluhan konsumen berkaitan dengan:

  1. Perilaku petugas penagihan (376 pengaduan).

  2. Restrukturisasi/relaksasi kredit (366 pengaduan).

OJK berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan Bank Indonesia, LPS, dan pemerintah daerah guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga demi mendukung program prioritas pemerintah.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: