Inflasi Bali 2025 Terkendali di Angka 2,91%, Lebih Rendah dari Nasional: Sinergi TPID Jadi Kunci Utama

 Inflasi Bali 2025 Terkendali di Angka 2,91%, Lebih Rendah dari Nasional: Sinergi TPID Jadi Kunci Utama

Foto: Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja

DENPASAR, Letternews.net – Menutup lembaran tahun 2025, Provinsi Bali mencatatkan prestasi gemilang dalam menjaga stabilitas harga. Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali pada 5 Januari 2026, inflasi gabungan kabupaten/kota di Bali sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar 2,91% (yoy). Capaian ini tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional 2,5±1%.

Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang menyentuh 2,92% (yoy). Stabilitas ini menjadi indikator positif di tengah pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2025 yang diprakirakan melesat di batas atas kisaran 5,0-5,8% (yoy).

BACA JUGA:  Berkah Galungan & Kuningan: Penjualan Ritel Bali November 2025 Melejit, Sektor Mainan Jadi Primadona

Analisis Spasial: Denpasar Catatkan Inflasi Tertinggi

Secara bulanan, Desember 2025 mengalami inflasi sebesar 0,70% (mtm), meningkat dari bulan sebelumnya. Berikut adalah rincian capaian inflasi di kabupaten/kota perhitungan:

  • Denpasar: Mengalami inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,45% (yoy).

  • Tabanan: Mencatatkan inflasi tahunan sebesar 2,70% (yoy).

  • Singaraja: Inflasi tahunan terkendali di angka 2,51% (yoy).

  • Badung: Mencatatkan angka terendah yakni 2,37% (yoy).

BACA JUGA:  Perkuat Taji Bank Daerah, Gubernur Koster Suntik BPD Bali Rp445 Miliar: Strategi Jaga Ketahanan Ekonomi Pulau Dewata

Cabai Rawit dan Bawang Merah Jadi Penyumbang Inflasi

Peningkatan harga pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi motor utama inflasi di akhir tahun. Hal ini dipicu oleh keterbatasan pasokan akibat curah hujan tinggi di sentra penghasil. Secara komoditas, kenaikan harga didorong oleh:

  • Kenaikan: Cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, tomat, dan biaya pemeliharaan/service.

  • Penahan Inflasi: Penurunan harga canang sari, kangkung, cabai merah, beras, dan tongkol diawetkan.

BACA JUGA:  Curah Hujan Tinggi dan Pasca-Galungan Tahan Laju Optimisme Konsumen Bali di Desember 2025

Strategi BI Bali Hadapi Tantangan 2026

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh TPID atas sinergi yang konsisten. Namun, ia mengingatkan adanya risiko di awal 2026, termasuk cuaca ekstrem dan HBKN (Nyepi, Idulfitri, dan Iduladha).

“Pada tahun 2026, sinergi akan diperkuat melalui strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif). Fokus utama kami adalah stabilitas pasokan, efisiensi distribusi, dan penguatan regulasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP),” ungkap Erwin.

Langkah konkret yang akan diintensifkan antara lain operasi pasar terencana, penguatan produksi daerah, hingga kolaborasi hulu-hilir yang melibatkan petani, BUMDes, Perumda, hingga sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe) untuk pemanfaatan produk lokal.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: