Targetkan Juara Umum Porprov 2027, Wawali Arya Wibawa Buka Rakerkot KONI Denpasar 2026
Inflasi Bali 2025 Terkendali di Angka 2,91%, Lebih Rendah dari Nasional: Sinergi TPID Jadi Kunci Utama
Foto: Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja

DENPASAR, Letternews.net – Menutup lembaran tahun 2025, Provinsi Bali mencatatkan prestasi gemilang dalam menjaga stabilitas harga. Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali pada 5 Januari 2026, inflasi gabungan kabupaten/kota di Bali sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar 2,91% (yoy). Capaian ini tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional 2,5±1%.
Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang menyentuh 2,92% (yoy). Stabilitas ini menjadi indikator positif di tengah pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2025 yang diprakirakan melesat di batas atas kisaran 5,0-5,8% (yoy).
Analisis Spasial: Denpasar Catatkan Inflasi Tertinggi
Secara bulanan, Desember 2025 mengalami inflasi sebesar 0,70% (mtm), meningkat dari bulan sebelumnya. Berikut adalah rincian capaian inflasi di kabupaten/kota perhitungan:
-
Denpasar: Mengalami inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,45% (yoy).
-
Tabanan: Mencatatkan inflasi tahunan sebesar 2,70% (yoy).
-
Singaraja: Inflasi tahunan terkendali di angka 2,51% (yoy).
-
Badung: Mencatatkan angka terendah yakni 2,37% (yoy).
Cabai Rawit dan Bawang Merah Jadi Penyumbang Inflasi
Peningkatan harga pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi motor utama inflasi di akhir tahun. Hal ini dipicu oleh keterbatasan pasokan akibat curah hujan tinggi di sentra penghasil. Secara komoditas, kenaikan harga didorong oleh:
-
Kenaikan: Cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, tomat, dan biaya pemeliharaan/service.
-
Penahan Inflasi: Penurunan harga canang sari, kangkung, cabai merah, beras, dan tongkol diawetkan.
Strategi BI Bali Hadapi Tantangan 2026
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh TPID atas sinergi yang konsisten. Namun, ia mengingatkan adanya risiko di awal 2026, termasuk cuaca ekstrem dan HBKN (Nyepi, Idulfitri, dan Iduladha).
“Pada tahun 2026, sinergi akan diperkuat melalui strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif). Fokus utama kami adalah stabilitas pasokan, efisiensi distribusi, dan penguatan regulasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP),” ungkap Erwin.
Langkah konkret yang akan diintensifkan antara lain operasi pasar terencana, penguatan produksi daerah, hingga kolaborasi hulu-hilir yang melibatkan petani, BUMDes, Perumda, hingga sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe) untuk pemanfaatan produk lokal.
Editor: Rudi.








