Gus Martin: Minimnya Minat Penulis Sastra Naskah Drama

 Gus Martin: Minimnya Minat Penulis Sastra Naskah Drama

Foto: Ida Bagus Martinaya alias Gus Martin

Letternews.net — Masih sedikitnya minat penulis dan sastrawan muda menjadi penulis naskah drama menjadi satu pemikiran buat sosok Ida Bagus Martinaya alias Gus Martin,61.

Gus Martin merupakan legenda hidup penulis naskah drama yang sudah menghasilkan naskah drama sejak dekade 1980-an. Pria kelahiran Denpasar ini mengajak penulis muda mulai mencoba menjajal dunia naskah drama.
Menurut Gus Martin, regenerasi penulis naskah drama di Bali terkesan mandeg sampai pada angkatannya. Setelahnya belum ada nama-nama yang secara serius menggeluti dunia pernaskahan drama ini. Pementasan teater yang ada saat ini masih menggunakan naskah drama ‘tempoe doeloe’.
BACA JUGA:  Perumda Air Minum Tirta Mangutama Kabupaten Badung Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah

“Bisa dihitung dengan jari yang menulis naskah drama (di Bali). Kalau ada pementasan pasti naskah-naskah lama yang dipakai, tidak ada naskah-naskah baru. Harapan saya itu supaya banyak ada penulis naskah drama,” kata Gus Martin kepada NusaBali, Senin (7/11).

Naskah drama, kata Gus Martin, merupakan faktor yang mendasar dari sebuah pementasan drama teater. Tanpa naskah yang jelas, tidak akan pernah ada pementasan teater yang sukses. Karenanya penulis naskah drama menjadi sosok yang sangat penting perannya dalam pementasan teater. “Teater di Bali juga cukup ajeg yang tentunya membutuhkan naskah drama,” tambah pendiri Sanggar Teater Agustus ini.

Gus Martin mengakui, tidak mudah untuk membuat naskah drama yang baik. Namun jika mau mempelajari dan berlatih hal apapun lambat laun bisa dikuasai. Karena itu, Gus Martin beberapa kali telah mengadakan seminar maupun diskusi terkait penulisan naskah drama.

Tidak hanya melaksanakan seminar, Gus Martin juga membagikan naskah dramanya kepada publik melalui dua buku naskah dramanya berjudul ‘Peti’ (2008) dan ‘Rahu’ (2020). Peti berisi empat buah naskah drama, sementara Rahu berisikan lima buah naskah. Naskah-naskah yang ditampilkan merupakan karya-karyanya sejak 1980-an hingga naskah-naskah yang dibuat dalam beberapa tahun terakhir.  Buku Gus Martin banyak diapresiasi mengingat masih jarangnya beredar buku naskah drama.

Buku Rahu bahkan baru saja dianugerahi ‘Penghargaan Sastra’ 2022 kategori Naskah Drama oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Pengumumannya bertepatan Hari Sumpah Pemuda ke-94, 28 Oktober 2022 lalu.

BACA JUGA:  Kunjungi PLN Bali, Electricidade de Timor Leste Ingin Jajaki Kerja Sama Pengembangan SDM
Buku Rahu diterbitkan Pustaka Ekspresi pada 2020. Berisikan lima buah naskah drama, yakni ‘Drona’, ‘Rabas’, ‘Dalem Sidakarya’, ‘Sampik Ing Tay’, dan ‘Rahu’. Semua naskah drama tersebut sudah pernah atau bahkan sudah sering dipentaskan termasuk naskah drama Rahu yang dibuat paling anyar, yakni pada tahun 2019.  Meski dibuat relatif baru, Gus Martin yang lama berprofesi sebagai jurnalis ini, melakukan riset panjang untuk membuat Rahu. Rahu sendiri menceritakan kembali epos Ramayana namun dari sudut pandang yang berbeda. Sejak muda Gus Martin melihat ada sesuatu yang kurang adil pada cerita salah satu epos terbesar dunia tersebut.
Gus Martin akhirnya berani mengambil perspektif berbeda dari yang kita lihat selama ini. Menurutnya sosok Rama tidaklah sosok sempurna penuh kebaikan seperti yang dipertontonkan selama ini. Sebaliknya sosok Rahwana juga tidak melulu soal keburukan dan kejahatan. “Rahwana sosok raja yang terhormat, memuliakan wanita. Rama mendapatkan Sinta lewat sayembara, tanpa perjuangan berarti. Meninggalkannya di hutan,” ujar Gus Martin.

Gusti Martin menuturkan, sepanjang perjalanan seninya membuat naskah drama sejak 1980-an, ada puluhan naskah drama yang tidak sempat didokumentasikan dengan baik, termasuk naskah drama televisi. Syukur beberapa naskah masih bisa diterbitkan.

Gus Martin menyebut, sebuah naskah drama dalam pementasan teater modern adalah sebuah keniscayaan. Berbeda dengan drama tradisional yang bisa hanya mengandalkan skenario, teater modern sangat bergantung dengan plot yang ada pada naskah drama, sehinggga menjadi pementasan yang baik, terencana, dan terukur. “Teater modern tidak boleh ngawur, cuma improvisasi, tidak bisa seperti itu,” kata peraih Anugerah Bali Jani Nugraha 2020 ini. (LN/cr78/NB)

.

Bagikan: