Gede Angastia: Lawan Kepalsuan, Lebih Baik Jadi “Penjahat” di Mata Penjilat Daripada Ikut Arus Kemunafikan

 Gede Angastia: Lawan Kepalsuan, Lebih Baik Jadi “Penjahat” di Mata Penjilat Daripada Ikut Arus Kemunafikan

Foto: Pegiat antikorupsi asal Bali, Gede Angastia

BULELENG, Letternews.net – Pengamat pembangunan sekaligus tokoh masyarakat Buleleng, Gede Angastia alias Anggas, kembali melontarkan kritik tajam mengenai dinamika sosial dan integritas diri di tengah lingkungan yang korosif. Dalam pesan reflektif yang penuh makna, pria yang akrab dengan jargon ANGG@S76 ini menyoroti fenomena “orang baik yang dianggap musuh” di lingkaran yang dipenuhi kemunafikan.

Menurutnya, seseorang tidak perlu terkejut jika kebaikan dianggap kejahatan ketika berada di lingkungan yang salah. Baginya, di dunia para penjilat, kejujuran adalah sebuah dosa.

BACA JUGA:  Sambut Bulan Ramadan, Pawang Bali Gelar Tradisi Megengan, Khotmil Qu'ran dan Santunan

Kejujuran Sebagai Cermin yang Menakutkan

Gede Angastia menekankan bahwa orang baik sering kali dipandang sebagai ancaman karena kebenaran yang mereka bawa bertindak sebagai cermin yang menelanjangi kebusukan orang-orang di sekelilingnya.

“Mereka akan memutarbalikkan cerita, membuat seakan ketulusanmu adalah topeng, padahal topeng itu mereka yang pakai setiap hari. Mereka tersenyum manis di depanmu, tapi menusuk diam-diam dari belakang,” tegas Angastia.

Ia juga menambahkan bahwa sikap tegak lurus dan berprinsip sering kali disalahartikan sebagai kesombongan. Bahkan, bagi mereka yang menolak ikut arus, bersiaplah untuk dijadikan kambing hitam agar kelompok tersebut terlihat bersih.

BACA JUGA:  Warga Gilimanuk Tuntut Pemerintah Jembrana Terbitkan SHM

Waspada Gejala NPD dan Pentingnya Memilih Lingkungan

Lebih jauh, ia mengaitkan perilaku ini dengan gejala Narcissistic Personality Disorder (NPD), di mana individu-individu tersebut selalu merasa benar dan tidak segan menjatuhkan orang lain demi citra diri.

Dalam kesimpulannya, Gede Angastia memberikan pesan yang sangat berani:

“Lebih baik jadi penjahat di mata penjilat daripada ikut jadi bagian kepalsuan. Karena pada akhirnya, waktu yang akan membuka siapa yang benar dan siapa yang pintar bersembunyi.”

Ia mengajak masyarakat untuk tidak berlama-lama berada di lingkaran yang hanya membuat diam di tempat. Menurutnya, setiap orang di sekeliling kita adalah cermin. Maka, sangat penting bagi setiap individu untuk berkaca pada cermin yang memantulkan versi terbaik dari dirinya sendiri.

“Hidup ini singkat. Salam objektivitas, ANGG@S76,” pungkasnya.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: