“Bom Air” dari Lapangan Golf: Warga Pancasari Tuding Handara Golf Lalai Kelola Drainase dan Timbun Kolam Retensi

 “Bom Air” dari Lapangan Golf: Warga Pancasari Tuding Handara Golf Lalai Kelola Drainase dan Timbun Kolam Retensi

Foto: Reydi Nobel laporkan Bali Handara ke Polda Bali terkait gorong-gorong raksasa pemicu banjir di Pancasari. Diduga ada keterlibatan investor Rusia di lahan hulu.

BULELENG, Letternews.net – Desa Pancasari kembali terendam. Banjir yang menerjang pemukiman warga, area glamping, hingga perkebunan stroberi pekan lalu menyisakan duka sekaligus kemarahan. Sorotan tajam kini tertuju pada Handara Golf & Resort Bali yang dituding melakukan kelalaian serius dalam pengelolaan limpasan air hujan dari ratusan hektar lahan golf miliknya.

Warga menemukan fakta mengejutkan: pembangunan gorong-gorong raksasa selebar 6 meter oleh pihak resort justru berujung maut bagi lingkungan sekitar, karena aliran airnya langsung dihujamkan ke drainase pemukiman yang hanya berukuran 1 meter.

BACA JUGA:  Akses Wisata Pancasari Diblokir Oknum: Tamu Mancanegara Terhambat, Warga Desak Perbekel Bertindak!

Fakta Pahit: Kolam Retensi Diduga Ditimbun

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, lapangan golf seluas ratusan hektar tersebut sejatinya memiliki sistem kolam retensi yang berfungsi sebagai penampung air hujan (catchment area). Namun, alih-alih difungsikan untuk menahan air, beberapa kolam retensi tersebut diduga kuat telah ditimbun dan tidak diaktifkan.

Dampaknya, air hujan yang jatuh di hamparan rumput luas tersebut tidak terserap ke tanah, melainkan langsung meluncur deras ke arah hilir, menghantam lahan pertanian dan rumah-rumah warga bak “bom air” yang siap meledak setiap hujan lebat tiba.

BACA JUGA:  Dilema,Turbulensi Krisis kepercayaan publik terhadap Institusi Peradilan kita saat ini

Ketimpangan Infrastruktur: Gorong-gorong 6 Meter vs Drainase 1 Meter

Ketidakmampuan teknis dalam manajemen air ini terlihat jelas dari ketimpangan ukuran saluran. Gorong-gorong 6 meter milik Handara mengalirkan jutaan meter kubik air ke saluran drainase warga yang sempit.

“Ini bukan solusi, tapi pengalihan risiko. Air dari ratusan hektar lahan mereka ditumpahkan ke selokan kecil warga. Jelas saja meluap dan menghancurkan kebun stroberi kami,” ungkap salah seorang warga yang terdampak.

BACA JUGA:  Wawali Arya Wibawa Resmikan Peken Ten-Ten di Br. Pande Pedungan Dorong UMKM Lokal

Ironi Klaim “Eco-Friendly” di Tengah Kerugian Warga

Ironisnya, Handara Golf sering mengampanyekan diri sebagai resort yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Namun, realita di Desa Pancasari justru menunjukkan sebaliknya. Praktik pengabaian fungsi kolam retensi dan pengalihan aliran air ke drainase pemukiman dianggap sebagai bentuk kegagalan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).

Secara hidrologi, seharusnya Handara melakukan pelebaran drainase hingga ke danau atau memaksimalkan kolam retensi sejak awal, bukan justru membiarkan warga menanggung kerugian ekonomi dan sosial yang masif.

BACA JUGA:  Arja Sewagati Tawarkan Kekhasan Sinom Sewagati di PKB ke-46

Menunggu Ketegasan Pengawas Tata Ruang

Kasus ini kini menjadi ujian bagi Pemerintah Kabupaten Buleleng dan aparat pengawas tata ruang serta lingkungan hidup. Masyarakat menuntut tindakan tegas agar pihak Handara segera melakukan langkah nyata: mengaktifkan kembali seluruh kolam retensi dan membangun sistem drainase yang proporsional hingga ke pembuangan akhir.

Hingga berita ini diturunkan, warga Pancasari masih dihantui kecemasan setiap kali mendung menggelayut di langit Bedugul, menunggu tanggung jawab nyata dari pihak pengelola sebelum bencana yang lebih besar terjadi.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: