Targetkan Juara Umum Porprov 2027, Wawali Arya Wibawa Buka Rakerkot KONI Denpasar 2026
Belajar (dari) Lawar: Makanan Tradisi VS Program Gizi Modern
Foto: Gambar Lawar dan MBG

DENPASAR, Letternews.net – Dalam catatan paradoks terbarunya, Wayan Suyadnya menyoroti fenomena Lawar, kuliner khas Bali yang nyaris tak pernah dikabarkan menyebabkan keracunan, bahkan ketika ia dibuat dari bahan mentah seperti darah atau daging cincang. Lawar, makanan yang lahir dari tangan yang menyatu dengan tradisi, seolah memiliki rahasia kekebalan.
Lawar selalu dibuat dan disajikan secara fresh—dibuat pagi, habis pagi itu juga. Dalam acara besar, Lawar dibuat secara gotong royong untuk ratusan hingga ribuan porsi. Menurut Suyadnya, kesegaran adalah jaminan, dan kesakralan adalah penangkalnya.
Rahasia Bumbu dan Harmoni Base Genep
Lawar, termasuk varian ekstrem seperti Lawar Plek Gianyar, mengandung campuran rempah dasar yang disebut Base Genep. Campuran ini, yang meliputi cekuh (kencur) yang hangat, jahe pengusir dingin, isen penguat perut, dan kunyit penyucian, bukanlah sekadar bumbu.
“Campuran cekuh jahe isen itu bukan sekadar bumbu, tapi harmoni yang diwariskan dari zaman yang jauh, sebuah pengetahuan kuliner yang sekaligus obat,” tulis Suyadnya.
Berkat kearifan dalam meracik bumbu dan menjaga kesegaran, Lawar dinikmati tanpa rasa cemas, baik itu Lawar Babi, Lawar Kuwir, maupun Lawar Kebo.
Ironi Lawar VS Makanan Bergizi
Paradoksnya, justru makanan yang dirancang modern dengan klaim gizi sempurna yang menuai masalah. Suyadnya membandingkan Lawar dengan kasus keracunan yang menimpa puluhan siswa di Bandung, Jawa Barat, setelah mengonsumsi makanan gizi gratis.
Ironi yang getir: Yang satu diwariskan tradisi, sederhana, tanpa klaim gizi, namun selalu aman. Yang lain dirancang modern, berkoar sebagai menu sehat penuh gizi, tetapi berujung pada keracunan.
Pertanyaan kritis pun muncul: Apakah yang modern selalu lebih baik? Atau, apakah ada yang salah dalam manajemen, distribusi, bahkan ketulusan memberi dalam program modern tersebut?
“Lawar mengajarkan bahwa makanan bukan hanya soal kandungan gizi, tetapi juga soal cara ia dibuat, cara ia dirawat, dan cara ia disajikan,” tutup Suyadnya, menyerukan agar tradisi tidak diremehkan dan program mulia tidak berubah menjadi petaka hanya karena salah kelola.
Editor: Rudi.








