Misteri Cahaya Merah di Setra Buleleng: Ternyata Rumah Pohon Bersejarah Pengintai Kapal Belanda
Antara Pelatih dan Pembina: Ketika Peran Keduanya Saling Tumpang Tindih
Foto: Rudianto, Andalan Kwarda Bali dan Pembina di SMK Farmasi Saraswati 3 Denpasar

DENPASAR, Letternews.net – Dalam dunia pendidikan non-formal seperti Pramuka, sering muncul perdebatan mengenai peran antara pelatih dan pembina. Meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama untuk mendidik, terdapat perbedaan mendasar dalam fungsi dan tanggung jawab.
Secara teoritis, seorang pelatih dapat menjadi pembina, namun pembina tidak serta merta bisa menjadi pelatih. Pelatih memiliki kewenangan dan kompetensi untuk melatih para pembina. Sementara itu, pembina adalah orang yang secara langsung mendampingi dan mendidik anggota di tingkat Gugus Depan. Namun, dalam praktik di lapangan, seringkali batasan ini menjadi kabur.
Pelatih Tanpa Gugus Depan: Ironi di Lapangan
Ironi muncul ketika banyak individu yang memiliki sertifikasi sebagai pelatih, namun tidak memiliki Gugus Depan (Gudep) binaan. Gudep adalah basis utama pendidikan Pramuka. Di sinilah proses pembinaan karakter, keterampilan, dan nilai-nilai kepramukaan dijalankan secara konsisten.
Ketika seorang pelatih tidak memiliki Gudep, ia hanya akan menjadi “pakar” teori. Pengetahuan yang dimilikinya tidak dapat diterapkan secara langsung, sehingga ia tidak memiliki pemahaman nyata tentang tantangan dan kebutuhan yang dihadapi di lapangan.
Fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam sistem. Fokus seringkali beralih dari pendidikan di tingkat basis (Gudep) ke pengembangan di tingkat atas (Kwartir), di mana peran pelatih menjadi lebih menonjol. Namun, tanpa Gudep yang aktif, peran pelatih menjadi tidak relevan.
Maka, sudah saatnya kita kembali pada esensi utama: bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari basis. Pelatih harus berperan sebagai pendukung dan mentor bagi para pembina, memastikan Gudep-Gudep tetap hidup dan produktif. Karena pada akhirnya, keberhasilan Pramuka tidak diukur dari seberapa banyak pelatih yang dimiliki, melainkan dari seberapa berkualitasnya generasi yang dibina di setiap Gugus Depan.
Penulis: Rudi.








