Buka Seminar Aksara Kawi, Ibu Putri Koster: Perbedaan Budaya Adalah Kekayaan, Jangan Malu Berbahasa Bali!

 Buka Seminar Aksara Kawi, Ibu Putri Koster: Perbedaan Budaya Adalah Kekayaan, Jangan Malu Berbahasa Bali!

Foto: Ibu Putri Koster buka Seminar Aksara Kawi di Denpasar. Tekankan pentingnya menjaga jati diri Bali melalui bahasa, aksara, dan busana di tengah arus pariwisata.

DENPASAR, Letternews.net – Di tengah gempuran modernisasi dan status Bali sebagai magnet pariwisata dunia, pelestarian jati diri bangsa menjadi harga mati. Hal tersebut ditegaskan oleh Pendamping Gubernur Bali, Ibu Putri Koster, saat membuka Seminar Aksara Kawi dalam rangka Peringatan 1112 Tahun Prasasti Blanjong di Gedung Kerta Sabha, Denpasar, Minggu (15/2/2026).

Sosok seniman multitalenta yang juga menjabat sebagai Ketua TP PKK Provinsi Bali ini mengajak generasi muda Pulau Dewata untuk menanamkan kebanggaan terhadap unsur-unsur lokal: bahasa, aksara, dan busana Bali.

BACA JUGA:  Himpun Rp16,97 Triliun di Tahun 2024, Kanwil DJP Bali Raih Quattrick 100% Penerimaan Pajak

Menjaga Jati Diri di Wajah Indonesia

Ibu Putri Koster mengingatkan bahwa posisi Bali sebagai wajah pariwisata Indonesia membawa tantangan besar berupa masuknya budaya Barat. Ia berharap, kemajuan pariwisata tidak membuat kearifan lokal luntur atau terlupakan.

“Bali adalah daerah pariwisata dengan kunjungan tertinggi. Namun, masuknya budaya luar jangan sampai membuat generasi muda lupa akan tradisi, adat istiadat, terutama busana, aksara, dan bahasa daerah kita sendiri,” ungkap Ibu Putri Koster.

Ia menekankan bahwa perbedaan budaya antara Bali dengan daerah lain di Indonesia bukanlah jurang pemisah, melainkan ciri khas unik yang menjadi kekayaan nasional. “Jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga? Perbedaan adalah kebanggaan yang harus kita rawat bersama,” tegasnya.

BACA JUGA:  Terminal VVIP Ngurah Rai di Target Serah Terima 17 Agustus 2022

Aksara Kawi: Jejak Peradaban Literasi Nusantara

Seminar yang bertepatan dengan pelaksanaan Bulan Bahasa Bali 2026 ini menghadirkan pakar sejarah dan arkeologi, salah satunya Gede Suarbawa. Dalam paparannya, ia membedah sejarah sistem aksara di Indonesia yang didominasi oleh pengaruh Pallawa, Arab, dan Latin.

Gede Suarbawa menjelaskan transformasi krusial dari aksara Pallawa yang ditemukan pada prasasti tertua di Kutai dan Jawa Barat, hingga berevolusi menjadi Aksara Kawi di Jawa dan Bali.

“Aksara Kawi merupakan bentuk transformasi dari aksara dasar Pallawa yang digunakan pada masa-masa selanjutnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali. Ini adalah bagian dari identitas literasi kita yang sangat panjang,” jelas Suarbawa.

BACA JUGA:  10 April Anas Urbaningrum Keluar Dari Lapas Sukamiskin

Harapan untuk Toleransi dan Persatuan

Melalui Seminar Aksara Kawi ini, diharapkan pemahaman masyarakat terhadap sejarah tulisan kuno semakin mendalam. Penguatan kebudayaan melalui literasi aksara diharapkan mampu menciptakan bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga hidup rukun dalam toleransi tinggi di tengah keberagaman warna budaya.

Editor: Rudi.

.

Bagikan: