Kinerja Intermediasi Efektif dan Akuntabel, Bank BPD Bali Terima Apresiasi LHP Kinerja dari BPK RI
Gubernur Koster Gebrak Bulan Bahasa Bali VIII: Instruksikan Aksara Bali Tampil di Semua Ruang dan Produk Lokal
Foto: Gubernur Wayan Koster resmi buka Bulan Bahasa Bali VIII 2026. Tekankan kewajiban penggunaan Aksara Bali di ruang publik, hotel, hingga produk lokal Bali.

DENPASAR, Letternews.net – Menandai babak baru pelestarian budaya di periode kedua jabatannya, Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi membuka Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Minggu (01/02/2026). Dalam sambutannya, Koster menegaskan komitmen masif untuk menggenjot implementasi Pergub Nomor 80 Tahun 2018 agar Aksara Bali tidak lagi sekadar pajangan, melainkan identitas yang hidup di ruang publik.
Aksara Bali: Simbol Peradaban Maju
Gubernur Koster menyoroti bahwa bangsa yang mampu melestarikan aksaranya, seperti Jepang, Korea, China, dan Thailand, terbukti menjadi negara dengan peradaban kuat dan maju.
“Kita mewarisi aksara yang begitu indah. Di periode kedua ini, saya akan genjot agar Aksara Bali tampil di semua ruang. Gunakan Aksara Bali, kalau bisa tanpa huruf latin, itu keren,” tegasnya. Menurut Koster, disiplin menggunakan aksara bukan sekadar tren fashion, melainkan upaya memperkuat jati diri dan karakter krama Bali.
Wajib di Produk Lokal dan Hotel
Tak hanya di ruang publik, Gubernur Koster menginstruksikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Bali untuk mewajibkan penggunaan Aksara Bali pada setiap produk lokal.
“Semua produk lokal Bali standarkan harus menggunakan Aksara Bali. Kalau tak memakai, tak usah dipasarkan. Hotel pun akan saya tegur jika tidak menggunakan aksara,” imbuhnya.
Satu Bulan Penuh “Atma Kerthi”
Bulan Bahasa Bali VIII tahun ini mengusung tema “Atma Kerthi: Udiana Purnaning Jiwa”, yang bermakna penyucian jiwa melalui taman spiritual bahasa, aksara, dan sastra Bali. Acara akan berlangsung selama satu bulan penuh (1-28 Februari 2026) dengan berbagai agenda menarik:
-
Festival Penulisan Aksara Bali: Menulis di berbagai media (batu, tembaga, lontar, hingga digital).
-
Wimbakara (Lomba): 17 jenis lomba yang melibatkan PAUD hingga Perguruan Tinggi.
-
Konservasi Lontar: Program “Raksa Pustaka” untuk menjaga naskah kuno.
-
Pameran Reka Aksara: Menampilkan transformasi aksara dalam teknologi digital.
Pembukaan ditandai dengan prosesi unik penarikan selendang kepompong kupu-kupu oleh Gubernur Koster, didampingi Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya. Gubernur juga sempat menorehkan pesan “Lestarikan Aksara Bahasa Sastra Bali” di atas kanvas sebagai simbol dimulainya gerakan kolektif ini.
Editor: Rudi.








