oleh

Sidang Kasus Dugaan Penipuan Ratusan Juta Masuk Agenda Pembacaan Putusan Sela

Letternews.net | Denpasar — Sidang kasus dugaan penipuan dan penggelapan senilai ratusan juta dengan terdakwa Stephanus Irawan alias Tommie Leim, Kamis (2/9/2021) kembali dilanjutkan. Sidang yang dipimpin hakim Angliky Handajani Day itu masuk pada agenda pembacaan putusan sela.

Dalam amar putusan sela, hakim menyatakan menolak eksepsi atau keberatan terdakwa atasa dakwaan jaksa.”Menyatakan eksepsi terdakwa tidak dapat diterima,” demikian bunyi putusan sela yang dibacakan dihadapan jaksa dan juga terdakwa dalam sidang yang berlangsung secara daring tersebut.

Sebelumnya, terdakwa dalam eksepsinya menyatakan keberatan atas dakwaan jaksa karena menganggap Pengadilan Negeri (PN) Denpasar tidak berwenang mengadili perkara ini. Alasannya antara para pihak telah membuat kesepakatan untuk menyelesaikan persoalan melalui sidang Arbitrase.

Atas keberatan ini majelis hakim menilai bahwa PN Denpasar memiiiki kewenangan mengadili perkara ini dengan alasan peradilan Arbitrase adalah sidang untuk menyelesaikan persoalan sengketa perdata.

Sementara dalam eksepsinya yang menganggap bahwa perkara yang sedang dihadapi terdakwa adalah perkara perdata bukan perkara pidana karena adanya beberapa perjanjian dengan korban, majelis beranggapan bahwa poin eksepsi ini sudah masuk pada pokok perkara yang harus dibuktikan dalam persidangan.

“Untuk mengetahui perkara ini apakah perkara perdata atau pidana harus dibuktikan melalui pemeriksaan pokok perkara. Oleh karena itu kami menganggap bahwa eksepsi terdakwa sudah masuk pada pokok perkara yang mesti harus dibuktikan melalui pemeriksaan saksi-saksi,”sebut hakim dalam putusan sela.

Karena eksepsi ditolak, majelis hakim memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fajar Said untuk melanjutkan sidang dengan agenda pembuktian melalui pemeriksaan saksi-saksi.

Sementara itu sebagaimana dalam dakwaa yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fajar Said di muka sidang menerangkan, awal perkara ini bermula pada bulan Maret tahun 2018 terdakwa menghubungi saksi Edo Suweta.

Di sana terdakwa mengatakan sehubungan dengan akan dibukannya Restoran Gang Mango pada bulan Agustus 2018 dan karena salah satu investor sedang berhalangan karena sakit, terdakwa mengaku membutuhkan investor pengganti dan menawarkan keuntungan sebesar 10 persen dari saham yang diinvestasikan.

Di samping itu terdakwa juga memperlihatkan proposal tentang pendirian Restoran Gang Manggo Casual Dining & Pool yang berisi table keuntungan atas saham yang diinvestasikan.

Terdakwa lalu menjelaskan bahwa jika menginvestasikan saham pada Restoran Gang Mango, dalam 6 bulan kedepan sudah bisa menikmati keuntungan dari investasi tersebut sebesar 10 persen dan begitu juga untuk bulan selanjutnya.

Selain itu, terdakwa juga menyatakan tanah tempat usaha Restoran Gang Manggo sudah disewa dan dibayarkan selama 10 tahun. Untuk lebih menyakinkan saksi Edo Suweta, terdakwa menggunakan tipu muslihat dengan membuat Akta No. 5 Tanggal 10 April 2018.

“Sehingga saksi tergerak untuk menyerahkan uang kepada terdakwa sejumlah Rp 750 juta dengan cara transfer ke rekening milik terdakwa,” kata jaksa, Senin (16/8/2021) di Denpasar.

Belakangan saksi baru mengetahui jika penyewaan tanah untuk usaha Restoran Gang Manggo oleh terdakwa belum dibayarkan sepuluh tahun, namun hanya tiga tahun.

Tidak hanya itu, keuntungan yang dikatakan terdakwa kepada saksi tidak pernah dilaksanakan, serta terdakwa tidak pernah bisa mempertanggungjawabkan penggunaan uang. Akibat perbuatan terdakwa, saksi Edo Suweta mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp 55 juta.

Di sisi lain, pada tanggal 23 Maret 2019, terdakwa bertemu dengan saksi Pangky Wibowo di Warung Makan Babi Guling Jalan Imam Bonjol, Denpasar. 

Dalam pertemuan tersebut terdakwa menyampaikan bahwa memiliki proyek rumah makan Gang Mango dan terdakwa berkata bahwa salah satu pemilik modal atas nama Edo Suweta berencana untuk menjual saham kepemilikannya sebanyak 10 persen senilai Rp 785.546.800,- karena membutuhkan dana untuk membuka klinik baru.

Pada tanggal 26 Maret 2019, terdakwa memberikan proposal proyek restauran Gang Mango kepada saksi Pangky Wibowo melalui WhatsApp dan video mengenai proyek tersebut.

Terdakwa mengatakan bahwa restaurant tersebut akan dibuka pada akhir April 2019 dan saksi menyarankan kepada terdakwa agar membeli kembali saham milik saksi Edo Suweta.

Kepada saksi terdakwa mengatakan bahwa uang miliknya akan digunakan untuk persiapan pembukaan restaurant yang direncanakan pada akhir April 2019, serta terdakwa mengatakan bahwa tanah tempat usaha Restoran Gang Manggo sudah disewa dan dibayarkan selama 10 tahun.

Singkat cerita, saksi yang terjebak bujuk rayu terdakwa akhirnya menyerahkan uang kepada terdakwa sebesar Rp 785.546.800,- dengan cara transfer ke rekening milik terdakwa secara bertahap.

Lambat laun perbuatan terdakwa diketahui saksi Pangki Wibowo. Di mana akibat perbuatan terdakwa, saksi Pangky Wibowo mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp.540.546.800,-.

Dua kali sukses melakukan aksinya membuat terdakwa ketagihan. Pada bulan Agustus 2019 terdakwa menemui korban lain yakni saksi I Putu Eka Juliarta Wirawan di My Warung Canggu.

Sama, di sana terdakwa memberikan proposal Gang Mango dan Restauran Gang Mango kepada saksi Putu Eka dengan mengatakan akan segera dibuka pada bulan September 2019.

Di samping itu, terdakwa berkata bahwa ada investor lain dari Hongkong, Singapura dan Indonesia. Setelah itu terdakwa menawarkan Putu Eka untuk membeli saham sebesar 5 persen milik terdakwa.

“Terdakwa bilang setelah membeli saham 5 persen maka akan mendapatkan keuntungan 5 persen dari hasil usaha setelah terhitung di bulan Desember 2019,” beber jaksa.

Lagi-lagi terdakwa menggunakan tipu muslihat dengan membuat Akta No. 26/dibukukan/IX/2019. Karena tertarik, saksi Putu Eka lalu menyerahkan uang kepada terdakwa untuk saham sebanyak 5 persen dengan harga Rp 392.000.000,-.

“Bahwa terdakwa tidak pernah bisa mempertanggungjawabkan penggunaan uang dari saksi Putu Eka. Dan akibat perbuatan terdakwa, saksi Putu Eka mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp 392.000.000,-,” ungkap jaksa. (rl)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *