oleh

Teroris Beraksi Lagi, Ada Apa?

JAKARTA | Letternews.net — Bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar pada Minggu, 28 Maret dan Penembakan di Mabes Polri lalu membuat kita semua kaget dan tersadarkan. Pasalnya, sudah sekian lama aksi bom tak terjadi.

Apalagi lagi itu terjadi jelang perayaan Hari Raya Paskah. Karena itu, lalu memunculkan ketakutan. Syukurlah bahwa dalam rangkaian perayaan Paskah di berbagai gereja tak terjadi lagi aksi serupa.

Secara langsung, aksi bom itu memunculkan lagi wacana soal masih lemahnya pemberantasan gerakan radikalisme dan terorisme yang selama ini sudah berlangsung. Kita seolah kecolongan terus. Dan tak berdaya menghadapinya. Apakah memang demikian adanya?

Tersebut bisa dilihat seberapa efektif penggalangan tokoh agama, tokoh masyarakat dan unsur keamanan negara (Polisi & TNI) dalam upaya pencegahan penyebaran paham radikal, meski dengan adanya penyuluhan dan penggalangan yang sudah berjalan bilamana masih terjadi bom bunuh diri dan atau teror dari kelompok radikal, untuk itu ada pertanyaan bagaimana dengan tokoh intelektualnya, karena selama ini yang ditangkap masih atau hanya anggota dari jaringan kelompok paham radikal, ini PR intelejen, dalam hal ini dituntut lebih ekstra agar tidak kecolongan lagi, strategi sekiranya yang bisa benar-benar masuk untuk mengkikis sejak dini agar paham radikal / terorisme ini tidak tumbuh terus dari generasi milenial?

Hal ini harus menggugah peran intelejen lebih dalam lagi, dan upaya upaya penggalangan dan penyuluhan oleh tokoh agama bersama TNI dan POLRI ke masyarakat di wilayah Nusantara NKRI terus digaungkan.
Peranan orang tua dalam mengawasi dan monitor kegiatan anak-anaknya dalam menggunakan media sosial.

Kita ketahui bersama bahwa Gerakan terorisme kerap dipropagandakan dengan bahwa pelaku teror diberi iming-iming masuk surga dan akan mendapatkan bidadari-bidadari cantik. Dengan iming-iming yang melenceng jauh dari ajaran agama itu, dalang kejahatan terorisme menciptakan apa yang disebut “pengantin” (istilah untuk calon pelaku bom bunuh diri) dan mencuci otak agar siap melakukan aksi bom bunuh diri.

Kita lihat dan didalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa surga haram bagi mereka yang melakukan bunuh diri dengan cara apapun, apalagi hingga mencelakai, melukai, dan membunuh orang lain.

Setidaknya hal itu terlihat dari dua hadits berikut. “Barangsiapa menjatuhkan diri dari gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia akan jatuh di neraka Jahanam, ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa meneguk racun hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya dan ia akan meneguknya di neraka Jahanam, ia kekal serta abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan (menusuk dirinya dengan) besi, maka besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menghujamkan ke perutnya di neraka Jahanam, ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR Imam al-Bukhari)

“Barangsiapa bersumpah dengan selain agama Islam secara dusta, maka dia seperti apa yang dia katakan. Barangsiapa bunuh diri dengan sesuatu di dunia, maka dia akan disiksa di neraka Jahanam dengan sesuatu yang ia pergunakan untuk bunuh diri.
Barangsiapa melaknat seorang Muslim, maka ia seperti membunuhnya dan barangsiapa menuduh seorang Muslim dengan kekafiran, maka ia seperti membunuhnya.” (HR Imam al-Bukhari).

Maka, Waspada selalu dengan paham radikal dengan praktiknya.

Ditulis Oleh :
Eko Nur Djunaidi, SH

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *