oleh

Senator H. Bambang Santoso: Perbaikan Moral Makin Berat Bila Miras Diberikan Ruang!! Investasi Miras Justru Menjadi Beban

DENPASAR | Letternews.net — Ekonomi Menyikapi Pro Kontra yang terjadi di Masyarakat terkait dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal, dalam lampiran terdapat poin Investasi miras diizinkan di 4 Provinsi di Indonesia. Maka saya selaku Anggota DPD RI perlu menyampaikan pandangan menolak keras investasi miras di Indonesia. Ungkap Senator H. Bambang Santoso

Disaat pemerintah sedang gencar mengajak seluruh komponen Bangsa untuk melakukan Revolusi Mental, belakangan justru menambah suasana semakin kacau dengan membuka peluang bagi para investor untuk menanamkan modalnya pada bisnis minuman keras di tanah air.

“Saya berpandangan memberi ruang dan kemudahan pada usaha minuman keras justru akan menjadi beban dan hambatan besar bagi perbaikan moral bangsa Indonesia kedepannya. Perlu kita ingat betapa kemerosotan moral hari ini diakibatkan lemahnya kontrol sosial, cuek dengan lingkungannya, apalagi bila miras seolah diberi angin segar tentu akan menambah beban bagi perbaikan moral kedepan.Saya prihatin dengan kebijakan pemerintah yang mengeluarkan Perpres bidang usaha penanaman modal yang juga mengatur tentang penanaman modal untuk usaha miras.Investasi miras justru menjadi beban bagi ekonomi negara, bukan memberi dampak ekonomi yang besar.” Kata Senator H. Bambang Santoso

Pembukaan investasi miras akan membuat beban ekonomi yang ditanggung negara akibat minuman keras lebih besar.Kondisi ini akan membuat konsumsi minuman beralkohol meningkat, dengan begitu akan ada sekelompok masyarakat yang konsumsi alkoholnya berlebihan. Ini berdasar pengalaman dari berbagai negara di dunia, ada biaya yang ditanggung dari efek buruk minuman keras ke perekonomian.Berdasar studi tahun 2010 di Amerika Serikat, disebutkan, pertama, satu dari enam orang di AS yang minum, masuk dalam kategori minum minuman beralkohol dalam kategori berlebihan.

Pemborosan terbesar itu disebabkan hilangnya produktivitas sebesar 72 persen, 11 persen karena biaya kesehatan, 10 persen untuk penegakan hukum kejahatan yang disebabkan alkohol, serta 5 persen terkait kecelakaan kendaraan bermotor akibat alkohol.Ada studi lain yang menunjukkan hal yang sama.

Studi yang ditulis Montarat Thavorncharoensap dalam 20 riset di 12 negara menyebutkan, beban ekonomi dari minuman beralkohol adalah 0,45 persen hingga 5,44 persen dari PDB.Jika angka ini diterapkan di Indonesia biaya ekonomi yang diakibatkan miras akan jauh lebih besar dari manfaatnya. Sebagai upaya menggenjot iklim investasi, sebaiknya Presiden membuat Perpres optimaliasi sektor pertanian dan sumberdaya laut. Dimasa pandem ini, sektor inilah yang justru menjadi penopang bahkan mengalami pertumbuan positif. Indonesia bagian timur, termasuk Bali, punya potensi itu. (Tim Media HBS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *