oleh

Purwa Sidemen: Kita Adalah Sosok Lubdaka Itu

DENPASAR | Letternews.net — Sosok seorang tokoh dalam mitologi Siwaratri yaitu Lubdaka, adalah sosok yang dikenal sebagai seorang pemburu binatang. Berburu binatang adalah sebagai mata pencahariannya. Lubdaka pada suatu hari diceritakan bertemu dengan Dewa Siwa. Atas apa yang telah diperbuat pada malam Siwa tersebut kemudian Lubdaka mendapatkan berkah berupa pengampunan dari Dewa Siwa. Cerita perjalanan Lubdaka ini sangat terkenal dan senantiasa dikupas pada setiap hari suci Siwaratri serta dijadikan sesuluh bagi umat Hindu. Siapakah tokoh Lubdaka ini? Masih adalah Lubdaka di zaman sekarang ini?

Dalam agama Hindu di Bali terdapat hari-hari suci sebagai hari raya dan salah satunya adalah hari suci Siwaratri, yang dilaksanakan setiap setahun sekali, tepatnya pada setiap purwaning Tilem Kepitu (sasih kepitu). Hari suci Siwaratri adalah hari yang digunakan dalam melakukan pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi beliau sebagai Bhatara Siwa atau Dewa Siwa. Siwaratri memiliki arti yaitu “Malam Siwa”. Kata Siwa dalam bahasa Sansekerta berarti baik hati, suka memaafkan, memberi harapan dan membahagiakan serta dapat diartikan sebagai sebuah gelar untuk salah satu manifestasi Tuhan yang diberi nama atau gelar kehormatan Dewa Siwa. Dewa Siwa dalam fungsi beliau adalah sebagai pemrelina untuk mencapai kesucian atau kesadaran diri yang memberikan harapan untuk kebahagian. Sedangkan kata Ratri artinya malam atau gelap, yang dapat diartikan juga sebagai kegelapan. Jadi Siwaratri dapat diartikan sebagai malam pemrelina atau pelebur kegelapan dalam diri untuk mendapatkan jalan yang menuju ke jalan yang lebih terang atau bahagia.

Dikisahkan bahwa Lubdaka adalah seorang pemburu binatang di hutan yang dilakukannya setiap hari dan hasil buruannya dijual untuk kebutuhannya sehari-hari. Pada suatu hari, nasibnya sedang tidak beruntung, tidak satu ekor binatang pun bisa didapatkannya. Tanpa merasa lelah dan sang waktu berjalan terus, Lubdaka tetap meneruskan usaha berburunya hingga lupa waktu. Lubdaka lupa waktu hingga hari sudah mulai gelap. Dalam kegelapan tersebut dan berada di tengah-tengah hutan, membuat Lubdaka tidak bisa mencari jalan untuk pulang. Akhirnya, ia pun memilih memutuskan untuk bermalam di tengah hutan. Untuk itu, ia mencari pohon yang besar untuk tempatnya tidur karena takut terhadap ancaman binatang buas. Lubdaka memanjat sebuah pohon yaitu pohon bila yang di bawahnya terdapat air telaga yang jernih, dengan sebuah pelinggih berupa lingga. Lubdaka bersandar dengan nyaman pada pohon bila, namun tetap berusaha agar tidak tertidur  walaupun ia mengantuk. Jika ia sampai tertidur, tentu bisa saja ia terjatuh dan menjadi makanan binatang buas. Maka dari itu, untuk menghilangkan rasa kantuknya, Lubdaka memetik dedaunan dari pohon bila satu demi satu dan menjatuhkannya ke bawah, sehingga mengenai lingga yang ada di bawahnya. Lubdaka sendiri tidak menyadari bahwa malam itu adalah malam Siwaratri, di mana Dewa Siwa tengah melakukan tapa yoga semadi. Sambil memetik setiap daun bila agar terjaga hingga pagi, selama itu juga Lubdaka menyesali segala perbuatannya yang telah dilakukannya selama ini. Hingga Lubdaka bertekad tidak akan menjadi pemburu lagi, mengganti dengan pekerjaan lainnya, karena pekerjaan sebagai pemburu dengan membunuh binatang dianggap sebagai perbuatan yang penuh dosa. Tidak terasa hingga pagi sudah tiba kemudian Lubdaka berkemas-kemas pulang ke rumahnya.

Dalam memaknai hari suci Siwaratri, ada yang beranggapan bahwa Siwaratri bertujuan atau merupakan malam untuk melebur dosa. Apakah benar demikian? Sesungguhnya Siwaratri merupakan malam perenungan dosa, bukan peleburan dosa. Hal ini dimaksudkan untuk tujuan agar tercapainya kesadaran diri. Secara tatwa,  Siwaratri itu simbolisasi dan aktualisasi diri dalam melakukan pendakian spiritual guna tercapainya ‘penyatuan’ Siwa, yaitu bersatunya atman dengan paramaatman atau Tuhan penguasa jagat raya itu sendiri. Sebagai malam perenungan, kita mestinya melakukan evaluasi atau introspeksi diri atas perbuatan-perbuatan yang sudah kita lakukan selama ini. Pada malam pemujaan Siwa ini kita memohon agar diberi tuntunan untuk dapat terhindar dan keluar dari perbuatan dosa. Kita sebagai manusia umat beragama dimuka bumi inilah Lubdaka-Lubdaka itu. Yang sepanjang hidup kita, senantiasa berburu untuk bisa memenuhi segala keinginan kita. Sejak duduk dibangku sekolah semasih kita anak-anak hingga remaja kita adalah pemburu ilmu pengetahuan. Kemudian beranjak remaja dan dewasa, kita juga masih sebagai berburu segala sesuatu yang bisa memenuhi segala keinginan kita untuk kepuasan dan kebahagiaan hidup kita. Hingga tua sekalipun kita masih tetap sebagai pemburu, namun kearah perburuan spiritual. Tanpa kita sadari bahwa segala perbuatan berburu itu terdapat perbuatan tercela dan berdosa. Apapun yang kita kejar, adalah bagian dari berburu agar kehendak dan keinginan kita terpenuhi. Saatnya pada malam hari suci Siwaratri ini, kita melakukan introspeksi diri dan mengevaluasi diri atas apa yang sudah kita lakukan selama ini. Yang pasti, manusia tidak bisa lepas dari kekeliruan dan kesalahan serta perbuatan yang berakibat merugikan orang lain. Disadari ataupun tidak, manusia tidak bisa lepas dari hal tersebut. Pada malam Siwaratri inilah kita hendaknya melakukan kontrol diri sebagai sebuah tindakan untuk memperbaikinya. Hari suci Siwaratri biasanya dibarengi dengan kegiatan ritual dan perburuan spiritual. Ritual berupa persembahyangan bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam hal ini kepada manifestasinya beliau sebagai Dewa Siwa.  Perburuan spiritual bisa dilakukan dengan berpuasa. Ada tiga jenis puasa yang dilakukan saat hari suci Siwaratri yaitu Upawasa, Jagra, dan Mona Brata. Upawasa atau tidak makan dan minum dalam sehari sebagai upaya pengendalian diri atas kebutuhan jasmani. Jagra, tidak tidur atau begadang semalam suntuk sebagai upaya dalam melakukan kontrol dan kesadaran diri. Mona Brata atau tidak berbicara selama sehari (24 jam) sebagai upaya kontrol dan melihat kedalam diri (berbicara pada diri sendiri) atas segala kesalahan maupun kekeliruan yang sudah dilakukan untuk kemudian tidak diulangi kembali pada masa berikutnya, karena kelahiran sebagai manusialah merupakan kesempatan kita untuk bisa memperbaiki diri. Demikian tersurat dalam Sarasammucaya pada sloka 4, yaitu:

“Apan ikang dadi wwang, utama juga ya, nimittaning mangkana, wȇnang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasādhanang śubhakrma, hinganing kottamaning dadi wwang ika”,

Artinya bahwa, “Sesungguhnya menjelma sebagai manusia ini adalah suatu hal yang utama, karena halnya manusialah yang dapat menolong dirinya sendiri dari kesengsaraan, yaitu dengan jalan berbuat baik. Itulah keuntungan menjelma menjadi manusia”.

Semoga atas kesalahan dan kekeliruan yang kita perbuat selama ini, melalui perayaan hari suci Siwatari menjadi cermin untuk memperbaiki segala perbuatan yang tidak baik, yang menimbulkan dosa, dan merugikan bagi semua orang termasuk diri sendiri. Alam juga telah memberikan peringatan atas apa yang kita rasakan selama ini. Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir selama setahun menjadikan kita harus introspeksi diri kembali. Umat manusia hendaknya saat ini banyak melakukan evaluasi, berbenah dan memperbaiki segala sesuatunya, dan terpenting adalah merubah perilaku yang tidak baik menjadi baik untuk kemudian tetap bisa menyesuaikan diri dan berjalan selaras dengan kehendak alam. Lubdaka zaman sekarang hendaknya mulai sadar atas kesalahan-kesalahan maupun kekeliruannya selama ini. Alam yang telah dirusak (diburu) harus dikembalikan dan dipelihara dengan baik. Lakukan sesuatu yang baru dan beradaptasi dengan alam sebagai tempat tinggalnya, merupakan bentuk evaluasi kita bersama. Harus dipahami bahwa alam tidak bisa dilawan, kehendaknya tidak bisa ditentang oleh manusia (Lubdaka). Umat manusia atau Lubdaka-Lubdaka zaman sekarang harus memulai sesuatu dengan perilaku yang baru, bila tidak demikian maka Dewa Siwa sebagai pemrelina (pelebur) akan menjalankan tugasnya hingga kitapun akan sirna dari muka bumi ini. Semoga kita semua terhindar dari segala mara bahaya.

Rahajeng Rahina Siwaratri, dumogi setata rahayu.

Ditulisoleh :
IB. Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si
Dosen Program Studi Pendidikan Agama
Fakultas Pendidikan – Universitas Hindu Indonesia Denpasar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *