oleh

Ketut Swabawa : Etika dalam ber-Webinar

DENPASAR | Letternews.net — Webinar (web seminar) menjadi hal yang lumrah saat ini, hampir tiap hari kita bisa lihat diselenggarakan oleh berbagai lembaga, asosiasi, komunitas dan juga instansi pemerintahan. Menariknya, masih banyak kalangan yang kurang dapat menyesuaikan dirinya ketika ber-webinar baik dalam kapasitas sebagai peserta maupun penyaji.

“Bahkan ada lho yang terang-terangan bilang anti webinar, katanya hanya buang-buang waktu dan parahnya lagi seolah-seolah seperti ajang pencitraan… hahaa… ini fenomena yang menyedihkan!” kata Ketut Swabawa, CHA

Menanggapi adanya persepsi begitu banyak diselenggarakannya webinar di masa pandemi ini. Menurutnya, webinar adalah bentuk media terbaru yang lahir sebagai dampak dari merebaknya wabah COVID-19. Karena pertemuan langsung tidak mungkin diadakan mengingat jumlah peserta sebagai prioritas utama selain untuk menghindari pembiayaan yang besar. Swabawa yang telah mengisi webinar dan pelatihan online sebanyak 18 kali sejak pertengahan Maret 2020 lalu ini sangat mengapresiasi usaha para penyelenggara dan para penyaji yang telah sukarela berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak.

“Pandemi ini kan unpredictable dan tidak bisa dihindari, sesuatu hal baru mengancam seluruh dimensi tatanan kehidupan masyarakat. Perlu ada terobosan untuk mempelajari hal baru ini, menyusun strategi dan mencari solusi bersama. Selain juga untuk meningkatkan pengetahuan baru dan wawasan akan informasi terkini akibat COVID-19 ini. Banyak juga yang memanfaatkan media webinar sebagai ajang temu kangen karena tidak mungkin bepergian keluar kota. Webinar saya yang pertama kali saya adakan sendiri membawakan topik Leading in Challenging Time pada 18 Maret 2020 karena saat itu industri benar-benar merasa terpukul dengan drop-nya bisnis bidang perhotelan. Akhirnya berlanjut terus diundang oleh asosiasi atau lembaga lainnya hingga sekarang“ tambah Swabawa yang juga menjabat Wakil Ketua II DPD IHGMA Bali.

Lebih lanjut ia juga menjelaskan ada hal – hal yang perlu diperhatikan ketika mengikuti webinar. Misalnya sebagai peserta harus tampil rapi serta mengikuti aturan yang dibuat oleh penyelenggara seperti menggunakan nama asli dalam akun aplikasi yang dipakai, tidak menyampaikan hal-hal yang tidak relevan dalam kolom chat / pesan dan sebagainya. Video peserta bisa dimatikan jika sedang dalam posisi atau keadaan yang kurang memadai. Sebaliknya, bagi penyaji wajib menyalakan video ketika sedang memaparkan materi sebagi bentuk originalitas dan kapabilitas profile penyaji itu sendiri.

“Pembicara atau instruktur pelatihan online harus tampil representative, bukan sambil duduk santai di sofa atau bahkan tidak mengenakan pakaian yang pantas. Ini kan seminar, hanya saja secara virtual jadi aspek profesionalisme pembicara atau instruktur juga turut mendukung bobot materi yang disampaikan serta kualitas webinar itu sendiri. Jangan sampai seperti ada saya pernah lihat si pembicara lupa matikan video, keliatan beliau membaca buku ketika menjelaskan materi yang ada di slide-nya” kata Swabawa menjelaskan beberapa hal yang menjadi bagian dari etika dalam webinar.

Pelatihan online tentang kepemimpinan diadakan hari ini oleh Indonesia Tourism E-Learning (ITEL) Online Academy Jakarta dengan instruktur Ketut Swabawa yang membawakan topik “7C’s Leadership Pyramid; transformer leadership post COVID-19”. Peserta dari berbagai kalangan seperti GM, HOD, Owner bisnis perhotelan serta akademisi dan perwakilan asosiasi. Panca Rudolf Sarungu sebagai Founder ITEL Online Academy dalam sambutannya menyampaikan ITEL hadir untuk menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan sistem pembelajaran berbasis dalam jaringan (daring) di era new normal kedepannya. “Platform kami telah bisa diakses dari android dan ios, tersedia banyak pelatihan online di bidang perhotelan, biro perjalanan, pemandu wisata, aktifitas wisata seperti rafting, menyelam dan sebagainya. Semuanya gratis untuk seluruh saudara-saudara di Indonesia tercinta ini” kata Panca R Sarungu menjelaskan tentang ITEL yang dibangunnya sejak Februari 2020 lalu bersama-sama dengan para tokoh, pimpinan asosiasi serta pelaku usaha kepariwisataan di Indonesia dan bersinergi dengan para ahli teknologi informasi dalam penyiapan software dan bantuan teknisnya. (rd)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *