oleh

Bersahabat Dengan Corona

DENPASAR | Letternews.net — Bersahabat dengan Corona? Apa maksudnya? Bukankah kita seharusnya menghindari dan menjauhinya? Sadarkah kita dampak yang diakibatkan oleh virus corona SARS-Cov-2 dengan nama penyakit Covid’19 bila hinggap dan masuk pada tubuh manusia? Tentu, sangat berbahaya karena berakibat kematian bila tidak mendapatkan penanganan yang benar. Dunia saat ini sedang dilanda wabah penyakit serius, yang diakibatkan oleh virus bernama yaitu serangan virus yang disebut Covid-19. Gerak perekonomian hampir terhenti dan berakibat terganggunya kehidupan manusia. Membatasi diri dengan berjarak, mengenakan masker, tempat cuci tangan banyak bermunculan di tempat umum, hand sanitizer laris di toko obat, an tindakan bentuk lainnya menjadi sebuah pemandangan biasa dan tidak terbayangkan sebelumnya oleh semua orang di muka bumi ini.

Masyarakat Bali terkenal dengan keramahannya. Sehingga keramahan ini menjadi modal besar dalam menjalin persahatan kepada siapa saja, termasuk dalam dunia pariwisata (hospitality). Tidak memerlukan kursus tertentu untuk bisa tersenyum, menyapa, member salam, dan sebagainya bagi masyarakat Bali. Pulau Bali, dengan lingkungan adat istiadat dan budaya yang luar biasa, menjadi tempat yang sangat dirindukan oleh orang-orang dari luar Bali atau wisatawan yang pernah berkunjung. Selain keindahan alam dan keunikan budayanya, kadang mereka rindu akan jalinan persahabatan dengan masyarakat Bali yang sopan, ramah, murah senyum, dan senantiasa bersahabat dengan para wisatawan. Istilah atau sebutan “nyama jawa” bagi orang asing baik yang dari luar Bali termasuk dari mancanegara, merupakan spirit yang tumbuh pada semua insan manusia Bali dan menjadikan mereka yang dianggap asing adalah saudara (nyama). Sikap bersahabat dan ramah ini apa juga harus demikian perlakuannya dengan yang penyakit apalagi yang mewabah ?

Masyarakat tradisional Bali sejak dahulu kala, oleh para leluhurnya menyadari bahwa penyakit (sasab, gering agung, merana, dll) selalu ada disekitar manusia. Ini menjadikan masyarakat tradisional Bali sudah terbiasa dekat dan bersahabat dengan penyakit. Segala kegiatan ritual (adat Hindu Bali) senantiasa diawali dengan ritual pembersihan atau penyucian (purification) dengan beberapa sarananya  seperti banten byakala, durmanggala, dan prayascita. Upakara Caru (dari bahasa Sansekerta “Car” artinya keseimbangan/keharmonisan) sebagai bentuk upacara yang ditujukan untuk memohonkan kembali keharmonisan alam, dilakukan dengan tingkatan dari yang paling kecil (segehan), sedang (caru), hingga yang besar (tawur). Keseimbangan atau keharmonisan ini dimaksudkan adalah keharmonisan pada unsur pawongan (manusia), palemahan (lingkungan), dan parahyangan (Tuhan sebagai pencipta alam beserta isinya). Falsafah orang Hindu Bali ini disebut dengan Tri Hita Karana. Apabila salah satu unsur dari Tri Hita Karana ini terganggu, maka akan terganggu juga yang lainnya. Alam beserta segala isinya (bhuwana agung) dan manusia sebagai bagian darinya (bhuwana alit) memiliki jalinan ikatan yang sangat kuat. Alam sebagai wujud bhuawan agung terganggu atau sakit, maka manusia sebagai wujud bhuwana alit juga akan terganggu (sakit). Kondisi inilah yang terjadi saat ini, bahwa alam memiliki caranya tersendiri untuk memperingati manusia. Alam sedang sakit dan memerlukan upaya pemurnian (purifikasi) untuk mengembalikan keharmonisan yang terganggu (inharmonis). Mungkin saja selama ini umat manusia terlalu congkak dengan memanfaatkan segala sumber alam tanpa batas, sehingga alam memperingatkan manusia bahwa yang rusak tersebut diperbaiki dengan caranya sendiri.

Kegiatan ritual masyarakat Hindu Bali merupakan upaya pengembalian ketidakharmonisan alam tersebut dan selalu diawali serta tidak luput dari permohonan agar masyarakat tradisional Bali terbebas dari berbagai serangan buruk termasuk penyakit, yang tampak maupun yang tidak tampak (sekala dan niskala). Upacara Nangluk Merana merupakan upacara yang senantiasa dilakukan setahun sekali, adalah bentuk permohonan agar terbebas dan terhindar dari serangan penyakit. Khususnya bagi masyarakat agraris (pertanian), upacara ini tidak boleh tidak dilakukan agar semua tanaman terbebas dari serangan hama penyakit. Harapannya agar semua hasil pertanian menghasilkan (panen) dengan hasil yang memuaskan. Hal ini menjadikan keyakinan masyarakat Hindu di Bali, berhadapan dengan penyakit sudah menjadi hal biasa untuk kemudian dilakukan pembersihan baik secara sekala maupun niskala. Tidak semua permasalahan terkait penyakit bisa diselesaikan secara nyata. Itulah sebabnya masyarakat Bali, dalam berbagai kesempatan dan kondisi senantiasa berdoa (ngaturang bakthi) kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan sarana upacara agar diberikan keselamatan kepada bumi Bali beserta seluruh isinya.

Penanda pintu rumah masyarakat Bali (angkul-angkul), adalah bentuk informasi agar siapa saja yang berniat memasuki rumah tersebut untuk berhati-hati. Tanda berupa colek pamor tapak dara dan pemasangan (ditancapkan) bawang merah, jahe, cabe (tabia), disertai beberapa helai daun pandan berduri, merupakan bentuk atau tanda bagi masyarakat tradisional Bali Ubudaya) bahwa dirumah yang bersangkutan terdapat orang sakit dan tidak boleh dikunjungi, atau sebaliknya semua penghuni rumah tersebut tidak boleh berkunjung keluar rumah selama wabah terjadi. Ini adalah bentuk tradisi yang saat ini lebih terkenal dengan istilah social & physical distancing. Colek pamor tapak dara sekaligus sebagai pemberitahu kepada masyarakat agar berhati-hati terhadap suatu penyakit, dalam hal ini sakit yangtidak kelihatan (niskala). Sama halnya dengan Virus Corona yang tidak tampak (kelihatan) dan menghantui umat manusia. Sesaji berupa segehan wong-wongan yang dihaturkan di lebuh (pintu masuk rumah) masyarakat Bali juga merupakan perwujugan sekaligus permohonan agar manusia Hindu Bali terhindar dari mara bahaya.

Saat wabah Covid-19 menyebar ke seantero dunia, menjadikan kehidupan terganggu. Keharmonisan antara alam, manusia, dan seluruh isinya terguncang. Diperlukan sikap dan tindakan tegas oleh Pemenrintah – dengan berbagai aturan yang dikeluarkan – untuk mnegatasi dan menyelamatkan umat manusia. Anjuran untuk menjauhi kerumunan, tidak berkumpul, menjaga jarak, memakai masker, sering mencuci tangan, membilas tangan dengan hand sanitizer merupakan penanda bahwa tidak mudah memusnahkan virus corona tersebut. Oleh karen itu, satu-satunya solusi adalah umat manusia dihadapkan pada sikap bersahabat dan ramah dengan virus corona tersebut.

Pemerintah RI, demikian juga pemerintahan negara-negara lainnya, menganjurkan untuk menerapkan CHS yaitu cleanliness (pola hidup bersih), healthy (pola hidup sehat), dan safety (pola hidup aman dan nyaman). Inilah anjuran yang bisa diikuti oleh semua orang. Mengenakan masker akan menjadi gaya hidup normal nantinya. Menjaga jarak (social & physical distancing) akan menjadi pola dan gaya baru, yang mau tidak mau atau suka tidak suka harus dipatuhi. Inilah cara bersahabat yang perlu diterapkan agar terhindar dari penyakit Covid-19. Sepanjang bisa diatur dan diterapkan dengan mudah, lama kelamaan hal ini menjadi pola atau tatanan hidup baru yang diistilahkan dengan sebutan “New Normal”. Selamat datang “New Normal”, dan kehidupan ini akan terbiasa ramah dan bersahabat dengan Corona. Swaha, semoga kita semua senantiasa dalam lindungan-NYA.

Ditulis Oleh :
IB. Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si
Dosen Program Studi Pendidikan Agama
Fakultas Pendidikan – Universitas Hindu Indonesia Denpasar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *