oleh

Bali Sudah Ramah Dari Nenek Moyang Kita Terhadap Siapapun.

Letternews.id, Denpasar — Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio akan menjadikan Bali sebagai pariwisata Ramah Muslim. Walaupun isu itu sendiri masih simpang siur, tapi beragam respons kadung sudah bermunculan.Namun, pernyataan Wishnutama justru ditanggapi lain oleh akademisi.

Ketua Yayasan Pendidikan Nasional (PERDIKNAS). Dr. A.A. Ngurah Eddy Supriyadinata Gorda,S.Sos.,M.M menyatakan, tidak benar jika ada pernyataan yang menunjukan seakan-akan Bali tidak ramah terhadap wisatawan muslim. Saat di temui di ruangannya. Kamis, 14 Nopember 2019.

Menurutnya, Kepariwisataan Budaya Bali adalah kepariwisataan Bali yang berlandaskan kepada Kebudayaan Bali yang dijiwai oleh ajaran Agama Hindu dan falsafah Tri Hita Karana sebagai potensi utama dengan menggunakan kepariwisataan sebagai wahana aktualisasinya.

Bali pada dasarnya mengusung pariwisata budaya dengan daya tarik seperti adat istiadat dan beragam kesenian. Penduduk Bali sendiri mayoritas beragama Hindu, tapi tetap sepenuhnya mengakomodir agama lain termasuk Islam. Kata Ngurah Eddy.

“Orang Bali itu terkenal dengan keramahtamahannya. Termasuk di dalamnya seperti itu, jadi kita sangat ramah dengan siapapun. Apalagi kita Pancasila (ada) berbagai macam agama, kita ramahlah. Jadi kalau untuk salat, makanan, saya kira nggak terlalu susah di Bali. Cuma kalau branding kita tetap mengusung pariwisata budaya,” ucapnya.

Di Bali ada banyak rumah ibadah yang berdampingan dengan pura . Misalkan di Pura Besakih dan Pura Ulun Danu Batur, di kedua tempat suci ini, sampai sekarang masih tersisa tempat persembahyangan untuk umat Buddha. Di Pura Besakih bernama Pura Ratu Gede Ngurah Subandar, di Pura Ulun Danu Batur diberi nama Pura Konco.

Di Nusa Dua Bali terdapat 5 rumah ibadah yang yang berdampingan , mulai dari Masjid, Pura, Gereja Katholik dan protestan, hingga Vihara berdiri berdampingan, bahkan hal tersebut semakin meningkatkan kerukunan antar umat beragama. Itu berada di Bali. Dengan itu bertanda Bali sudah Ramah dengan agama lain. Jelas Ngurah Eddy

Itu semua masyarakat terlalu persepsi selektif dari teori komunikasi ketika kita bicara salah satu agama seolah olah negatif karena pada dasarnya proses selektif dalam komunikasi massa adalah proses psikologis yang meliputi terpaan selektif, pengingatan selektif, dan persepsi selektif.

Kita tidak bisa mangkir dari kenyataan bahwa kita tumbuh dari budaya spritual. Sila pertama dari filsafah bangsa Indonesia adalah kebutuhan yang maha esa, dan ini berarti bahwa landasan hakiki kehidupan berbangsa dan bernegara adalah prinsip ketuhanan, prinsip religius. Oleh karena itu, apa pun aspek kehidupan kita semestinya dilandasi oleh dasar-dasar religius, atau spritual. Tambah Ngurah Eddy.

“Sehingga brandingnya pariwisata budaya Bali nggak perlu diubah-ubah jadi wisata halal, nggak perlulah. Tetep branding wisata budaya yang ada, ,” tutupnya. (Rudi)



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *